Demam Tifoid (Typhus Abdominalis)
November 5, 2006 at 5:29 am | In ProTap | 16 Comments
Definisi :
Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh kuman Salmonella Typhi dengan masa tunas 6-14 hari.
Gejala dan Tanda:
Demam > 7 hari, terutama pada malam hari, dan tidak spesifik
Gangguan saluran pencernaan: nyeri perut, sembelit/diare, muntah
Dapat ditemukan: lidah kotor, splenomegali, hepatomegali
Gangguan kesadaran : iritabel-delirium, apati sampai semi-koma
Bradikardi relatif, Rose-spots, epistaksis (jarang ditemukan)
Laboratorium : titer Widal 1/200 atau lebih atau 1/320 pada pemeriksaan ulangan dan klinis. Diagnosa pasti dengan kultur. Titer aglutinin bisa tetap positip setelah beberapa minggu, bulan bahkan tahun, walau penderita sudah sehat. Kadang leukositosis, kadang leukopeni
Penatalaksanaan :
Bet rest total (tirah baring absolut) sampai minimal 7 hari bebas panas atau selama 14 hari, lalu mobilisasi secara bertahap -> duduk -> berdiri -> jalan pada 7 hari bebas panas
Diet tetap makan nasi, tinggi kalori dan protein (rendah serat) -> lihat Buku Ajar Penyakit Dalam jilid 1, edisi 3 cetakan ke 7, halaman 439, PAPDI, tahun 2004
Medikamentosa:
Antipiretik (Parasetamol setiap 4-6 jam)
Roborantia (Becom-C, dll)
Antibiotika:
Kloramfenikol, Thiamfenikol : 4×500 mg, jika sampai 7 hari panas tidak turun (obat diganti)
Amoksilin/ampisilin : 1 gr/6 jam selama fase demam. Bila demam turun -> 750 mg/6 jam sampai 7 hari bebas panas
Kotrimoksasol : 2 X 960 mg Selama 14 hari atau sampai 7 hari bebas panas. Jika terjadi leukopeni (obat diganti)
Golongan sefalospurin generasi III (mahal)
Golongan quinolon (bila ada MDR)
Catatan:
Kortikosterroid: khusus untuk penderita yang sangat toksik (panas tinggi tidak turun-turun, kesadaran menurun dan gelisah/sepsis):
Hari ke 1: Kortison 3 X 100 mg im atau Prednison 3 X 10 mg oral
Hari ke 2: Kortison 2 X 100 mg im atau Prednison 2 X 10 mg oral
Hari ke 3: Kortison 3 X 50 mg im atau Prednison 3 X 5 mg oral
Hari ke 4: Kortison 2 X 50 mg im atau Prednison 2 X 5 mg oral
Hari ke 5: Kortison 1 X 50 mg im atau Prednison 1 X 5 mg oral
Pada Anak :
Klorampenikol : 50-100 mg/kg BB/dibagi dalam 4 dosis sampai 3 hari bebas panas / minimal 14 hari. Pada bayi < 2 minggu : 25 mg/kg BB/hari dalam 4 dosis. Bila dalam 4 hari panas tidak turun obat dapat diganti dengan antibiotika lain (lihat di bawah)
Kotrimoksasol : 8-20 mg/kg BB/hari dalam 2 dosis sampai 5 hari bebas panas / minimal 10 hari
Bila terjadi ikterus dan hepatomegali : selain Kloramfenikol diterapi dengan Ampisilin 100 mg/ kg BB/hari selama 14 hari dibagi dalam 4 dosis
Bila dengan upaya-upaya tersebut panas tidak turun juga, rujuk ke RSUD
Perhatian :
Jangan mudah memberi golongan quinolon, bila dengan obat lain masih bisa diatasi (baca ulasan penulis dalam: Booming Cyprofloxacin)
Jangan mudah memberi Kloramfenikol bagi kasus demam yang belum pasti Demam Tifoid, mengingat komplikasi Agranulositotis
Tidak semua demam dengan leukopeni adalah Demam Tifoid
Demam < 7 hari tanpa leukositosis pada umumnya adalah infeksi virus, jangan beri kloramfenikol
Rabu, 05 Mei 2010
Sesak Nafas (Dyspneu)
November 5, 2006 at 4:35 pm | In ProTap | 60 Comments
Penyebab:
Bebagai penyakit yang memerlukan penanganan cepat
Jika diagnosis dan terapi lerlambat -> fatal
Penatalaksanaan, anamnesis, pemeriksaan jasmani yang seksama -> memegang peranan sangat penting.
Penyakit-penyakit penyebab Sesak Napas:
Alergi: Asma Bronkiale
Kardiologi: Payah Jantung
Pulmonologi: Efusi pleura masif, Pneumonia, Pneumothoraks, Penyakit Paru Obstruksi Menahun (PPOM)
Penyakit dalam: Gastritis, Esofagitis
Psikiatri: Kesakitan atau ketegangan
Yang Harus Ditanyakan pada Anamnesa:
Sejak Kapan: Baru saja ? Sudah lama dan kambuh-kambuhan ? Tiba-tiba atau Perlahan-lahan?
Apakah timbul sesudah kegiatan fisik berat?
Apakah timbul bila berjalan jauh atau naik tangga?
Apakah disertai batuk-batuk?
Apakah disertai sputum : banyak? Berbuih? Mengandung darah?
Apakah disertai nyeri dada kiri?
--------------------------------------------------------------------------------
Asma Bronkiale
Anamnesa:
Sering kambuh pada saat-saat tertentu (menjelang pagi, udara dingin, banyak debu, dll)
Nafas berbunyi, disertai/ tanpa sputum
Kadang ada riwayat alergi (makanan tertentu, Obat, dll)
Ada riwayat alergi/ sesak pada keluarga lain yang sedarah
Kadang dicetuskan oleh stres.
--------------------------------------------------------------------------------
Payah Jantung (Decompensatio Cordis)
Anamnesa:
Timbul setelah aktivitas fisik berat (jalan jauh, naik tangga, dll) dan berkurang dengan istirahat
Lebih enak berbaring dengan bantal tinggi.
--------------------------------------------------------------------------------
Efusi Pleura, Pneumonia, Pneumothorax, Penyakit Paru Obstruktif Menahun
Anamnesa:
Sesak napas terus-menerus dan berkepanjangan
--------------------------------------------------------------------------------
Gastritis (Dispepsia)
Sesak nafas di hulu hati, sesaknya berhubungan dengan kecemasan, makanan, misalnya sesudah makan makanan yang merangsang (pedas, kecut, kopi, dll)
--------------------------------------------------------------------------------
Penatalaksanaan Umum Sesak Napas:
Diagnosis Pasti : anamnesis, pemeriksaan fisik, foto thorak,EKG.
Berikan O2 2-4 liter/ menit tergantung derajat sesaknya (secara intermiten)
Infus D5% 8 tetes/menit, jika bukan payah jantung -> tetesan dapat lebih cepat
Posisi setengah duduk atau berbaring dengan bantal tinggi -> usahakan yang paling enak buat pasien. Bila syok -> Posisi kepala jangan tinggi.
Cari penyebab -> tindakan selanjutnya tergantung penyebab.
Perhatian :
Pada panyah jantung -> jangan beri infus NaCl, dan tetesan harus pelan sekali -> agar tidak makin memberatkan beban jantung
Pada (riwayat) sakit dada -> jangan injeksi adrenalin -> fatal
Pada PPOM, jika diperlukan O2 -> aliran kecil : 1-2 liter/ menit -> dapat terjadi Apnea.
Pengobatan Spesifik:
Penatalaksanaan secara spesifik dilanjutkan sesuai dengan kausa nya.
November 5, 2006 at 4:35 pm | In ProTap | 60 Comments
Penyebab:
Bebagai penyakit yang memerlukan penanganan cepat
Jika diagnosis dan terapi lerlambat -> fatal
Penatalaksanaan, anamnesis, pemeriksaan jasmani yang seksama -> memegang peranan sangat penting.
Penyakit-penyakit penyebab Sesak Napas:
Alergi: Asma Bronkiale
Kardiologi: Payah Jantung
Pulmonologi: Efusi pleura masif, Pneumonia, Pneumothoraks, Penyakit Paru Obstruksi Menahun (PPOM)
Penyakit dalam: Gastritis, Esofagitis
Psikiatri: Kesakitan atau ketegangan
Yang Harus Ditanyakan pada Anamnesa:
Sejak Kapan: Baru saja ? Sudah lama dan kambuh-kambuhan ? Tiba-tiba atau Perlahan-lahan?
Apakah timbul sesudah kegiatan fisik berat?
Apakah timbul bila berjalan jauh atau naik tangga?
Apakah disertai batuk-batuk?
Apakah disertai sputum : banyak? Berbuih? Mengandung darah?
Apakah disertai nyeri dada kiri?
--------------------------------------------------------------------------------
Asma Bronkiale
Anamnesa:
Sering kambuh pada saat-saat tertentu (menjelang pagi, udara dingin, banyak debu, dll)
Nafas berbunyi, disertai/ tanpa sputum
Kadang ada riwayat alergi (makanan tertentu, Obat, dll)
Ada riwayat alergi/ sesak pada keluarga lain yang sedarah
Kadang dicetuskan oleh stres.
--------------------------------------------------------------------------------
Payah Jantung (Decompensatio Cordis)
Anamnesa:
Timbul setelah aktivitas fisik berat (jalan jauh, naik tangga, dll) dan berkurang dengan istirahat
Lebih enak berbaring dengan bantal tinggi.
--------------------------------------------------------------------------------
Efusi Pleura, Pneumonia, Pneumothorax, Penyakit Paru Obstruktif Menahun
Anamnesa:
Sesak napas terus-menerus dan berkepanjangan
--------------------------------------------------------------------------------
Gastritis (Dispepsia)
Sesak nafas di hulu hati, sesaknya berhubungan dengan kecemasan, makanan, misalnya sesudah makan makanan yang merangsang (pedas, kecut, kopi, dll)
--------------------------------------------------------------------------------
Penatalaksanaan Umum Sesak Napas:
Diagnosis Pasti : anamnesis, pemeriksaan fisik, foto thorak,EKG.
Berikan O2 2-4 liter/ menit tergantung derajat sesaknya (secara intermiten)
Infus D5% 8 tetes/menit, jika bukan payah jantung -> tetesan dapat lebih cepat
Posisi setengah duduk atau berbaring dengan bantal tinggi -> usahakan yang paling enak buat pasien. Bila syok -> Posisi kepala jangan tinggi.
Cari penyebab -> tindakan selanjutnya tergantung penyebab.
Perhatian :
Pada panyah jantung -> jangan beri infus NaCl, dan tetesan harus pelan sekali -> agar tidak makin memberatkan beban jantung
Pada (riwayat) sakit dada -> jangan injeksi adrenalin -> fatal
Pada PPOM, jika diperlukan O2 -> aliran kecil : 1-2 liter/ menit -> dapat terjadi Apnea.
Pengobatan Spesifik:
Penatalaksanaan secara spesifik dilanjutkan sesuai dengan kausa nya.
VISUAL POTENSI BENCANA DI WILAYAH PROV. BANTEN
Banjir
Tanah Longsor
Angin Puting Beliung
Kebakaran
Kekeringan
Gempa Bumi
Letusan G. Berapi (G. Anak Krakatau)
Tsunami
Wabah Penyakit
Bahaya Industri
Konflik / Kerusuhan Sosial
UPAYA PENANGGULANGAN (Kesiapan, Tanggap Darurat dan Rehabilitasi/ Rekonstruksi)
PENGERTIAN
Bencana Sosial:
S I K L U S PENANGGULANGAN BENCANA
TAHAPAN PENANGGULANGAN BENCANA
Kesiapan (Preparedness)
Mitigasi (Mitigation)
Pencegahan (Preventif)
Kedaruratan
Kesiapan Darurat
Tanggap Darurat (Emergency response)
Rehabilitasi (Rehabilitation)
Rekonstruksi (Reconstruction)
Langkah-Langkah Operasional Antisipasi Penanganan Bencana
Meningkatkan kemampuan individu, keluarga/masyarakat, aparatur dan kelembagaan dalam menghadapi bencana sosial;
Penyiapan sarana dan prasarana untuk mendukung upaya Penanganan Bencana sosial.
Menyiapkan dan mengembangkan landasan hukum dan operasional
Pembinaan koordinasi dan kerjasama antar Kab./Kota dalam upaya Penanganan Bencana sosial
Peraturan Mensos R.I. Nomor : 29/HUK/2006, Tentang Pelaksanaan Penggunaan Cadangan Beras Pemerintah Untuk Penanggulangan Keadaan Darurat (Emergency Relief) dan Penanganan Pasca Bencana
Bab III Pasal 3 Point (1) dan (2) :
Gubernur mempunyai kewenangan menggunakan cadangan beras secara langsung sesuai kebutuhan dan maksimum 200 ton/tahun. Penggunaan cadangan beras nasional lebih dari yang ditentukan tersebut, dilakukan melalui persetujuan Menteri Sosial;
Bupati/Walikota mempunyai kewenangan menggunakan cadangan beras pemerintah untuk penanggulangan bencana yang terjadi di wilayahnya secara langsung sesuai kebutuhan dan maksimum 100 ton/tahun. Penggunaan cadangan beras nasional lebih dari yang ditentukan tersebut, dilakukan melalui persetujuan Gubernur.
Prosedur Penyaluran Beras
Kepala Dinas Sosial/Kesejahteraan Sosial/Institusi Sosial Provinsi A.n. Gubernur Mengajukan permohonan ke Dolog sesuai dengan tembusan kepada Menteri Sosial;
Kepala Dinas Sosial/Kesejahteraan Sosial/nstitusi Sosial Kabupaten/Kota A.n. Bupati/Walikota mengajukan permohonan ke Sub Dolog sesuai kebutuhan dengan tembusan kepada Gubernur dan Menteri Sosial.
TAGANA Taruna Siaga Bencana
Adalah Satuan Tugas Berbasis Masyarakat yang disiapkan dan dibekali pengetahuan serta keterampilan untuk melaksanakan kegiatan Penanggulangan Bencana (Sebelum, Saat dan Sesudah Bencana)
Keanggotaan TAGANA
Anggota TAGANA, berlatar belakang atau memiliki spesifikasi keahlian seperti :
1. Karang Taruna
2. Anggota PMI
3. Anggota Pramuka
4. Anggota Orsos/LSM
5. Anggota SAR
6. Anggota Pencinta Alam
7 Relawan PB
8. Mahasiswa/Pelajar
9. Anggota Paguyuban-paguyuban Pemuda
10. Masyarakat Peduli Bencana, dll
Tugas TAGANA
Melaksanakan Kegiatan Penanggulangan Bencana bersama dengan masyarakat mulai dari tahap sebelum, saat dan sesudah bencana
Fungsi TAGANA
1. Fungsi Pencegahan
Segala upaya dan kegiatan untuk mencegah dan atau mengurangi resiko yang mungkin terjadi melalui kegiatan penyuluhan, pelatihan/gladi dengan melibatkan masyarakat.
2. Fungsi Pemberdayaan
Menumbuhkembangkan kemampuan, motivasi dan peran masyarakat dalam upaya penanggulangan bencana serta peran keluarga korban bencana agar dapat melaksanakan kegiatan sosial dan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
3. Fungsi Rehabilitasi
Segala upaya dan kegiatan yang dilakukan untuk memulihkan dan meningkatkan peran sosial korban bencana dan lingkungannya dalam kehidupan bermasyarakat.
4. Fungsi Perlindungan
Segala upaya dan kegiatan yang dilakukan agar masyarakat terhindar dari resiko peristiwa bencana.
5. Fungsi Penyelamatan
Segala upaya dan kegiatan untuk menolong, melindungi dan memberikan bantuan tanggap darurat kepada korban akibat bencana.
6. Fungsi Penunjang
Mendukung pelaksanaan program/Kegiatan upaya penanggulangan Bencana sektor/bidang terkait lain.
PERMASALAHAN UMUM PB
Upaya penanggulangan bencana di daerah belum dijadikan kebutuhan yang prioritas. Hal ini berpengaruh terhadap program dan kegiatan serta minimnya anggaran pembangunan bidang PB;
Masih terbatasnya Sumber Daya Manusia yang terampil dalam PB;(seperti Anggota TAGANA).
Belum adanya Prosedur Tetap (Protap)/Standar Operasi (SOP) yang terpadu yang dapat dijadikan pedoman dalam pelaksanaan di lapangan;
Minimnya sarana dan prasarana penanggulangan bencana di daerah;
Pelaksanaan penanggulangan bencana belum mengikutsertakan dan memberdayakan masyarakat;
Tugas Pokok Dinas Sosial Provinsi Banten dalam Penanggulangan Bencana
Memberikan pelayanan dan bantuan sosial bagi korban bencana, Sebelum bencana, Saat Bencana dan Pasca Bencana
Tugas dan Fungsi
DATA RUMAH TANGGA MISKIN (RTM) PROVINSI BANTEN
TUJUAN PROGRAM/KEGIATAN BANTUAN DAN JAMINAN SOSIAL
Pra Bencana
Pelatihan Tagana
Pemantapan Petugas Posko
Pemantapan Koordinasi 3 (tiga) Tungku
Sosialisasi Deteksi Dini Bencana Sosial
Sosialisasi Program dan Kebijakan Penanggulangan Bencana Sosial
Pemetaan Daerah Rawan Bencana Sosial
Pengembangan Kesiapsiagaan Bencana Sosial
Keserasian di Daerah Rawan Bencana Sosial
Saresehan kearipan Lokal Daerah Rawan Bencana Sosial
Penyiapan Buffer Stock Bahan Pangan Bencana;
Penyiapan Dapur Umum Lapangan;
Penyiapan Evakuasi Kit;
Penyiapan Jaringan Informasi Komunikasi Bantuan Sosial.
Gladai Kesiapan Bantuan Sosial dlm PB.
Saat Bencana
Pelayanan & Bantuan Bahan Sandang, Pangan;
Pelayanan Dapur Umum;
Pencarian dan Pertolongan Korban Bencana;
Posko Bantuan Sosial PB;
Evakuasi Korban Bencana;
Pasca Bencana
Memberikan Bantuan Bahan Bangunan Rumah (BBR)
Trauma Center
INFO UP TO DATE
Banjir
Tanah Longsor
Angin Puting Beliung
Kebakaran
Kekeringan
Gempa Bumi
Letusan G. Berapi (G. Anak Krakatau)
Tsunami
Wabah Penyakit
Bahaya Industri
Konflik / Kerusuhan Sosial
UPAYA PENANGGULANGAN (Kesiapan, Tanggap Darurat dan Rehabilitasi/ Rekonstruksi)
PENGERTIAN
Bencana Sosial:
S I K L U S PENANGGULANGAN BENCANA
TAHAPAN PENANGGULANGAN BENCANA
Kesiapan (Preparedness)
Mitigasi (Mitigation)
Pencegahan (Preventif)
Kedaruratan
Kesiapan Darurat
Tanggap Darurat (Emergency response)
Rehabilitasi (Rehabilitation)
Rekonstruksi (Reconstruction)
Langkah-Langkah Operasional Antisipasi Penanganan Bencana
Meningkatkan kemampuan individu, keluarga/masyarakat, aparatur dan kelembagaan dalam menghadapi bencana sosial;
Penyiapan sarana dan prasarana untuk mendukung upaya Penanganan Bencana sosial.
Menyiapkan dan mengembangkan landasan hukum dan operasional
Pembinaan koordinasi dan kerjasama antar Kab./Kota dalam upaya Penanganan Bencana sosial
Peraturan Mensos R.I. Nomor : 29/HUK/2006, Tentang Pelaksanaan Penggunaan Cadangan Beras Pemerintah Untuk Penanggulangan Keadaan Darurat (Emergency Relief) dan Penanganan Pasca Bencana
Bab III Pasal 3 Point (1) dan (2) :
Gubernur mempunyai kewenangan menggunakan cadangan beras secara langsung sesuai kebutuhan dan maksimum 200 ton/tahun. Penggunaan cadangan beras nasional lebih dari yang ditentukan tersebut, dilakukan melalui persetujuan Menteri Sosial;
Bupati/Walikota mempunyai kewenangan menggunakan cadangan beras pemerintah untuk penanggulangan bencana yang terjadi di wilayahnya secara langsung sesuai kebutuhan dan maksimum 100 ton/tahun. Penggunaan cadangan beras nasional lebih dari yang ditentukan tersebut, dilakukan melalui persetujuan Gubernur.
Prosedur Penyaluran Beras
Kepala Dinas Sosial/Kesejahteraan Sosial/Institusi Sosial Provinsi A.n. Gubernur Mengajukan permohonan ke Dolog sesuai dengan tembusan kepada Menteri Sosial;
Kepala Dinas Sosial/Kesejahteraan Sosial/nstitusi Sosial Kabupaten/Kota A.n. Bupati/Walikota mengajukan permohonan ke Sub Dolog sesuai kebutuhan dengan tembusan kepada Gubernur dan Menteri Sosial.
TAGANA Taruna Siaga Bencana
Adalah Satuan Tugas Berbasis Masyarakat yang disiapkan dan dibekali pengetahuan serta keterampilan untuk melaksanakan kegiatan Penanggulangan Bencana (Sebelum, Saat dan Sesudah Bencana)
Keanggotaan TAGANA
Anggota TAGANA, berlatar belakang atau memiliki spesifikasi keahlian seperti :
1. Karang Taruna
2. Anggota PMI
3. Anggota Pramuka
4. Anggota Orsos/LSM
5. Anggota SAR
6. Anggota Pencinta Alam
7 Relawan PB
8. Mahasiswa/Pelajar
9. Anggota Paguyuban-paguyuban Pemuda
10. Masyarakat Peduli Bencana, dll
Tugas TAGANA
Melaksanakan Kegiatan Penanggulangan Bencana bersama dengan masyarakat mulai dari tahap sebelum, saat dan sesudah bencana
Fungsi TAGANA
1. Fungsi Pencegahan
Segala upaya dan kegiatan untuk mencegah dan atau mengurangi resiko yang mungkin terjadi melalui kegiatan penyuluhan, pelatihan/gladi dengan melibatkan masyarakat.
2. Fungsi Pemberdayaan
Menumbuhkembangkan kemampuan, motivasi dan peran masyarakat dalam upaya penanggulangan bencana serta peran keluarga korban bencana agar dapat melaksanakan kegiatan sosial dan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
3. Fungsi Rehabilitasi
Segala upaya dan kegiatan yang dilakukan untuk memulihkan dan meningkatkan peran sosial korban bencana dan lingkungannya dalam kehidupan bermasyarakat.
4. Fungsi Perlindungan
Segala upaya dan kegiatan yang dilakukan agar masyarakat terhindar dari resiko peristiwa bencana.
5. Fungsi Penyelamatan
Segala upaya dan kegiatan untuk menolong, melindungi dan memberikan bantuan tanggap darurat kepada korban akibat bencana.
6. Fungsi Penunjang
Mendukung pelaksanaan program/Kegiatan upaya penanggulangan Bencana sektor/bidang terkait lain.
PERMASALAHAN UMUM PB
Upaya penanggulangan bencana di daerah belum dijadikan kebutuhan yang prioritas. Hal ini berpengaruh terhadap program dan kegiatan serta minimnya anggaran pembangunan bidang PB;
Masih terbatasnya Sumber Daya Manusia yang terampil dalam PB;(seperti Anggota TAGANA).
Belum adanya Prosedur Tetap (Protap)/Standar Operasi (SOP) yang terpadu yang dapat dijadikan pedoman dalam pelaksanaan di lapangan;
Minimnya sarana dan prasarana penanggulangan bencana di daerah;
Pelaksanaan penanggulangan bencana belum mengikutsertakan dan memberdayakan masyarakat;
Tugas Pokok Dinas Sosial Provinsi Banten dalam Penanggulangan Bencana
Memberikan pelayanan dan bantuan sosial bagi korban bencana, Sebelum bencana, Saat Bencana dan Pasca Bencana
Tugas dan Fungsi
DATA RUMAH TANGGA MISKIN (RTM) PROVINSI BANTEN
TUJUAN PROGRAM/KEGIATAN BANTUAN DAN JAMINAN SOSIAL
Pra Bencana
Pelatihan Tagana
Pemantapan Petugas Posko
Pemantapan Koordinasi 3 (tiga) Tungku
Sosialisasi Deteksi Dini Bencana Sosial
Sosialisasi Program dan Kebijakan Penanggulangan Bencana Sosial
Pemetaan Daerah Rawan Bencana Sosial
Pengembangan Kesiapsiagaan Bencana Sosial
Keserasian di Daerah Rawan Bencana Sosial
Saresehan kearipan Lokal Daerah Rawan Bencana Sosial
Penyiapan Buffer Stock Bahan Pangan Bencana;
Penyiapan Dapur Umum Lapangan;
Penyiapan Evakuasi Kit;
Penyiapan Jaringan Informasi Komunikasi Bantuan Sosial.
Gladai Kesiapan Bantuan Sosial dlm PB.
Saat Bencana
Pelayanan & Bantuan Bahan Sandang, Pangan;
Pelayanan Dapur Umum;
Pencarian dan Pertolongan Korban Bencana;
Posko Bantuan Sosial PB;
Evakuasi Korban Bencana;
Pasca Bencana
Memberikan Bantuan Bahan Bangunan Rumah (BBR)
Trauma Center
INFO UP TO DATE
Potensi Sumber Gempa Bumi dan Tsunami di Provinsi Banten
Potensi Sumber Gempa Bumi dan Tsunami di Provinsi Banten
1. Selat Sunda Wilayah Provinsi Banten
Berupa gempa bumi dengan magnitudo < 6.0 Skala Richter, kecuali wilayah Ujungkulon berkisar 5.0 – 6.0 Skala Richter. Peluang terjadinya tsunami di kedua wilayah ini cukup kecil.
Selat Sunda Wilayah Provinsi Lampung bagian selatan
Berupa gempa bumi dengan peluang terjadinya tsunami cukup besar, mengancam pantai barat Provinsi Banten, dengan waktu tempuh gelombang tsunami 30-45 menit.
Samudra India sebelah barat Provinsi Lampung
Berupa gempa bumi yang berpotensi menimbulkan tsunami yang mengancam pesisir barat dan pesisir selatan Provinsi Banten, dengan waktu tempuh rata-rata gelombang tsunami 90 – 135 menit.
Samudra India sebelah selatan Kebupaten Sukabumi
Berupa gempa bumi yang berpotensi menimbulkan tsunami yang mengancam pesisir selatan Provinsi Banten, dengan waktu tempuh rata-rata gelombang tsunami 90 – 120 menit.
Daratan Provinsi Banten sendiri
Berupa gempa bumi dengan magnitudo 4.0 – 6.0 Skala Richter, dengan konsentrasi di wilayah Kabupaten Pandeglang sebelah selatan, yang mencakup Kecamatan Sumur, Kecamatan Cimanggu, Kecamatan Cibaliung, Kecamatan Cikuesik, Kecamatan Cigeulis, Kecamatan Munjul, Kecamatan Angsana, Kecamatan Panimbang, Kecamatan Pagelaran, Kecamatan Picung dan Kecamatan Bojong.
Kenali dan biasakan merasakan gempa yang terjadi di lingkungan kita walaupun skalanya kecil.
Perhatikan daerah-daerah rawan gempa atau rawan longsor.
Selalu mengikuti berita tentang gempa baik di koran, radio maupun di televisi
Tsunami berasal dari kata :
Tsu = Pelabuhan
Nami = Gelombang
Jadi Tsunami berarti gelombang yang menyerang pelabuhan atau daratan
Tsunami adalah gelombang laut yang disebabkan oleh gempa bumi, atau letusan gunung berapi yang terjadi di laut. Gelombang tsunami bergerak dengan kecepatan ratusan kilometer per jam di lautan dalam dan dapat melanda daratan dengan ketinggian gelombang mencapai 30 meter atau lebih.
Tsunami terjadi jika : - Gempa besar dengan kekuatan gempa > 6.3 SR. - Lokasi pusat gempa di laut. - Kedalaman dangkal < 40 km. - Terjadi deformasi vertikal dasar laut.
Mengenal Tanda Datangnya Tsunami :
Sebelum datang tsunami terlebih dahulu akan terasa getaran kuat akibat gempa bumi yang terjadi pada jarak < 200 km dan biasanya diikuti dengan surutnya permukaan air laut serta beberapa saat kemudian terdengar suara gemuruh.
Jika anda merasakan adanya getaran gempa untuk waktu 30 detik di daerah pantai, segera tinggalkan pantai dan pergi ke tempat dengan ketinggian lebih dari 12 m.
Kondisi cuaca yang harus diwaspadai
Puting Beliung, adalah angin kencang yang berpilin-pilin dengan kecepatan 65-180 km/jam dan berlangsung sekitar 5-20 menit.
Hujan es, adalah hujan dalam bentuk padat (es) yang jatuh hingga ke permukaan tanah, biasanya dihasilkan oleh awan Cumulonimbus (Cb) aktif.
Badai Tropis, adalah pusaran angin raksaksa yang tumbuh di atas laut yang panas, pusat tekanan rata-rata 950 mb, kecepatan angin lebih besar dari 118 km/jam.
Cuaca Ekstrim, adalah kondisi cuaca yang ditengarai dengan kecepatan angin > 45 km/jam, suhu > 35°C dan <17°C, serta kelembaban udara <40%.
Bagaimana kita mengamati awan :
Perhatikan bentuk dan pertumbuhannya, jika awan berbentuk seperti kembang kol itu menandakan ada pertumbuhan awan karena pemanasan dan jika beberapa jam makin membesar kemungkinan untuk terjadi hujan besar, lihat juga warna awannya jika mulai berwarna keabu-abuan menandakan hujan akan turun.
Jika awan tersebut merata di atas kita, waspadai akan adanya bahaya angin puting beliung/ badai dan petir yang dapat membahayakan jiwa kita.
Sebagai fenomena alam, cuaca sulit atau bahkan tidak dapat dihindari. Manusia hanya dapat menyesuaikan aktivitasnya dengan kondisi cuaca tertentu.
PUTING BELIUNG
Definisi : angin kencang yang datang secara tiba-tiba, mempunyai pusat dan bergerak melingkar seperti spiral hingga menyentuh permukaan bumi serta punah dalam waktu singkat (3 - 5 menit)
Sifat-sifat angin puting beliung:
Sangat lokal
Luasnya berkisr 5 – 10 km
Waktunya singkat sekitar 3 – 5 menit
Lebih sering terjadi pada peralihan musim (pancaroba)
Lebih sering terjadi pada siang atau sore hari, dan terkadang malam hari
Bergerak secara garis lurus
Tidak bisa diprediksi secara spesifik
Hanya berasal dari awan Cumulonimbus, tetapi tidak semua awan Cb menimbulkan puting beliung
Kemungkinannya kecil untuk dapat terjadi lagi di tempat yang sama
Indikasi akan terjadinya angin punting beliung
Satu hari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah
Mulai pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan Cumulus (awan berlapis-lapis), diantaranya awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol
Tahap berikutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu-abu / hitam
Pepohonan disekitar tempat kita berdiri ada dahan atau ranting yang mulai bergoyang cepat
Terasa ada sentuhan udara dingin disekitar tempat kita berdiri
Biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan deras tiba-tiba, apabila hujannya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari tempat kita
Jika 1 – 3 hari berturut-turut tidak ada hujan pada musim penghujan, maka ada kemungkinan hujan deras yang pertama kali turun diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun yang tidak
Antisipasi dampak puting beliung
Menebang pohon yang rimbun dan tinggi serta rapuh untuk mengurai beban pada pohon tersebut
Memperkuat atap rumah yang rapuh
Menjauh dari lokasi kejadian apabila mengetahui adanya indikasi akan terjadi puting beliung
Ketika terjadi puting beliung cepat berlindung dengan cara merapatkan tubuh kedinding bangunan yang kokoh, tengkurap di lantai dengan tangan melindungi kepala dan jangan berlindung di dalam mobil
Jangan berdiri di bawah pohon di lapangan terbuka
Jangan berenang
Jangan bermain golf jangan beraktivitas dengan dilapangan terbuka jangan menggunakan telepon
Potensi Bencana Alam di Provinsi Banten
Potensi Bencana Alam di Provinsi Banten
Potensi Bencana Alam di Provinsi Banten
Potensi Bencana Kombinasi antara Peristiwa Alam dan Peristiwa Buatan Manusia di Provinsi Banten
POTENSI BENCANA
Kesimpulan
Kecuali Pulau Kalimantan, tidak ada tempat di Indonesia yang bebas dari ancaman gempa bumi.
Mengingat gempa bumi belum bisa diramalkan, maka upaya-upaya untuk mengurangi dampaknya menjadi sangat penting.
Secanggih apa pun sensor, tetaplah sensor, yang tidak mampu menerka kejadian sedetik pun sebelum terjadi. Karena itu, sangatlah salah jika beranggapan bahwasanya BMKG otomatis menjadi “bisa segala-galanya” karena sudah dilengkapi dengan alat canggih tadi.
Kemampuan memprediksi tetap menjadi kekuatan otak manusia sesuai kodratnya.
Apa yang harus dilakukan?
Pelajari dan pahami jenis bencana yang ada dan potensinya di wilayah kita;
Ukur kemampuan diri dan instrumen yang tersedia / yang ada untuk menghadapinya;
Ambil sikap : melawan, menyerah atau menyiasatinya.
1. Selat Sunda Wilayah Provinsi Banten
Berupa gempa bumi dengan magnitudo < 6.0 Skala Richter, kecuali wilayah Ujungkulon berkisar 5.0 – 6.0 Skala Richter. Peluang terjadinya tsunami di kedua wilayah ini cukup kecil.
Selat Sunda Wilayah Provinsi Lampung bagian selatan
Berupa gempa bumi dengan peluang terjadinya tsunami cukup besar, mengancam pantai barat Provinsi Banten, dengan waktu tempuh gelombang tsunami 30-45 menit.
Samudra India sebelah barat Provinsi Lampung
Berupa gempa bumi yang berpotensi menimbulkan tsunami yang mengancam pesisir barat dan pesisir selatan Provinsi Banten, dengan waktu tempuh rata-rata gelombang tsunami 90 – 135 menit.
Samudra India sebelah selatan Kebupaten Sukabumi
Berupa gempa bumi yang berpotensi menimbulkan tsunami yang mengancam pesisir selatan Provinsi Banten, dengan waktu tempuh rata-rata gelombang tsunami 90 – 120 menit.
Daratan Provinsi Banten sendiri
Berupa gempa bumi dengan magnitudo 4.0 – 6.0 Skala Richter, dengan konsentrasi di wilayah Kabupaten Pandeglang sebelah selatan, yang mencakup Kecamatan Sumur, Kecamatan Cimanggu, Kecamatan Cibaliung, Kecamatan Cikuesik, Kecamatan Cigeulis, Kecamatan Munjul, Kecamatan Angsana, Kecamatan Panimbang, Kecamatan Pagelaran, Kecamatan Picung dan Kecamatan Bojong.
Kenali dan biasakan merasakan gempa yang terjadi di lingkungan kita walaupun skalanya kecil.
Perhatikan daerah-daerah rawan gempa atau rawan longsor.
Selalu mengikuti berita tentang gempa baik di koran, radio maupun di televisi
Tsunami berasal dari kata :
Tsu = Pelabuhan
Nami = Gelombang
Jadi Tsunami berarti gelombang yang menyerang pelabuhan atau daratan
Tsunami adalah gelombang laut yang disebabkan oleh gempa bumi, atau letusan gunung berapi yang terjadi di laut. Gelombang tsunami bergerak dengan kecepatan ratusan kilometer per jam di lautan dalam dan dapat melanda daratan dengan ketinggian gelombang mencapai 30 meter atau lebih.
Tsunami terjadi jika : - Gempa besar dengan kekuatan gempa > 6.3 SR. - Lokasi pusat gempa di laut. - Kedalaman dangkal < 40 km. - Terjadi deformasi vertikal dasar laut.
Mengenal Tanda Datangnya Tsunami :
Sebelum datang tsunami terlebih dahulu akan terasa getaran kuat akibat gempa bumi yang terjadi pada jarak < 200 km dan biasanya diikuti dengan surutnya permukaan air laut serta beberapa saat kemudian terdengar suara gemuruh.
Jika anda merasakan adanya getaran gempa untuk waktu 30 detik di daerah pantai, segera tinggalkan pantai dan pergi ke tempat dengan ketinggian lebih dari 12 m.
Kondisi cuaca yang harus diwaspadai
Puting Beliung, adalah angin kencang yang berpilin-pilin dengan kecepatan 65-180 km/jam dan berlangsung sekitar 5-20 menit.
Hujan es, adalah hujan dalam bentuk padat (es) yang jatuh hingga ke permukaan tanah, biasanya dihasilkan oleh awan Cumulonimbus (Cb) aktif.
Badai Tropis, adalah pusaran angin raksaksa yang tumbuh di atas laut yang panas, pusat tekanan rata-rata 950 mb, kecepatan angin lebih besar dari 118 km/jam.
Cuaca Ekstrim, adalah kondisi cuaca yang ditengarai dengan kecepatan angin > 45 km/jam, suhu > 35°C dan <17°C, serta kelembaban udara <40%.
Bagaimana kita mengamati awan :
Perhatikan bentuk dan pertumbuhannya, jika awan berbentuk seperti kembang kol itu menandakan ada pertumbuhan awan karena pemanasan dan jika beberapa jam makin membesar kemungkinan untuk terjadi hujan besar, lihat juga warna awannya jika mulai berwarna keabu-abuan menandakan hujan akan turun.
Jika awan tersebut merata di atas kita, waspadai akan adanya bahaya angin puting beliung/ badai dan petir yang dapat membahayakan jiwa kita.
Sebagai fenomena alam, cuaca sulit atau bahkan tidak dapat dihindari. Manusia hanya dapat menyesuaikan aktivitasnya dengan kondisi cuaca tertentu.
PUTING BELIUNG
Definisi : angin kencang yang datang secara tiba-tiba, mempunyai pusat dan bergerak melingkar seperti spiral hingga menyentuh permukaan bumi serta punah dalam waktu singkat (3 - 5 menit)
Sifat-sifat angin puting beliung:
Sangat lokal
Luasnya berkisr 5 – 10 km
Waktunya singkat sekitar 3 – 5 menit
Lebih sering terjadi pada peralihan musim (pancaroba)
Lebih sering terjadi pada siang atau sore hari, dan terkadang malam hari
Bergerak secara garis lurus
Tidak bisa diprediksi secara spesifik
Hanya berasal dari awan Cumulonimbus, tetapi tidak semua awan Cb menimbulkan puting beliung
Kemungkinannya kecil untuk dapat terjadi lagi di tempat yang sama
Indikasi akan terjadinya angin punting beliung
Satu hari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah
Mulai pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan Cumulus (awan berlapis-lapis), diantaranya awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol
Tahap berikutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu-abu / hitam
Pepohonan disekitar tempat kita berdiri ada dahan atau ranting yang mulai bergoyang cepat
Terasa ada sentuhan udara dingin disekitar tempat kita berdiri
Biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan deras tiba-tiba, apabila hujannya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari tempat kita
Jika 1 – 3 hari berturut-turut tidak ada hujan pada musim penghujan, maka ada kemungkinan hujan deras yang pertama kali turun diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun yang tidak
Antisipasi dampak puting beliung
Menebang pohon yang rimbun dan tinggi serta rapuh untuk mengurai beban pada pohon tersebut
Memperkuat atap rumah yang rapuh
Menjauh dari lokasi kejadian apabila mengetahui adanya indikasi akan terjadi puting beliung
Ketika terjadi puting beliung cepat berlindung dengan cara merapatkan tubuh kedinding bangunan yang kokoh, tengkurap di lantai dengan tangan melindungi kepala dan jangan berlindung di dalam mobil
Jangan berdiri di bawah pohon di lapangan terbuka
Jangan berenang
Jangan bermain golf jangan beraktivitas dengan dilapangan terbuka jangan menggunakan telepon
Potensi Bencana Alam di Provinsi Banten
Potensi Bencana Alam di Provinsi Banten
Potensi Bencana Alam di Provinsi Banten
Potensi Bencana Kombinasi antara Peristiwa Alam dan Peristiwa Buatan Manusia di Provinsi Banten
POTENSI BENCANA
Kesimpulan
Kecuali Pulau Kalimantan, tidak ada tempat di Indonesia yang bebas dari ancaman gempa bumi.
Mengingat gempa bumi belum bisa diramalkan, maka upaya-upaya untuk mengurangi dampaknya menjadi sangat penting.
Secanggih apa pun sensor, tetaplah sensor, yang tidak mampu menerka kejadian sedetik pun sebelum terjadi. Karena itu, sangatlah salah jika beranggapan bahwasanya BMKG otomatis menjadi “bisa segala-galanya” karena sudah dilengkapi dengan alat canggih tadi.
Kemampuan memprediksi tetap menjadi kekuatan otak manusia sesuai kodratnya.
Apa yang harus dilakukan?
Pelajari dan pahami jenis bencana yang ada dan potensinya di wilayah kita;
Ukur kemampuan diri dan instrumen yang tersedia / yang ada untuk menghadapinya;
Ambil sikap : melawan, menyerah atau menyiasatinya.
Senin, 03 Mei 2010
PROTAP PELAYANAN PEMERIKSAAN DAN PENGOBATAN PASIEN
1. TUJUAN :
Sebagai Pedoman kerja bagi petugas medis / paramedis dalam melakukan pemeriksaan di ruang Pengobatan.
2. SASARAN :
Tenaga Medis / Paramedis dalam melakukan pemeriksaan pasien di ruang Pengobatan.
3. URAIAN UMUM :
* Anamnesa :
Wawancara terhadap pasien atau keluarganya mengenai :
+ Keluhan Utama.
+ Keluhan tambahan.
+ Riwayat penyakit terdahulu.
+ Riwayat penyakit keluarga.
+ Lamanya sakit.
+ Pengobatan yang sudah dilakukan.
+ Riwayat alergi obat.
o Pemeriksaan Fisik :
+ Inspeksi : Keadaan umum pasien.
* Palpasi : Perabaan kemungkinan adanya benjolan,konsistensi
hepar / lien.
* Perkusi : Untuk menentukan batas jantung, keadaan paru, hepar,
kemungkinan adanya ascites.
* Auskultasi : Untuk mengetahui keadaan jantung, paru dan peristaltik
usus.
o Pelayanan Rujukan :
Untuk pasien yang tidak mampu ditangani di Puskasmas diberikan surat rujukan ke RSU dengan menggunakan blangko surat rujukan yang tersedia sesuai jenis pasien ( pasien umum, ASKES, JPK-MM ).
4. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN :
1. Pasien dari loket pendaftaran menuju Ruang Pengobatan untuk menyerahkan kartu rawat jalan yang diterimanya di loket, kemudian menunggu di ruang tunggu sesuai antrean.
2. Petugas di R. Pengobatan memanggil pasien untuk masuk ke Ruang periksa sesuai nomor urut.
3. Petugas mencocokkan identitas pasien dengan kartu rawat jalan.
4. Petugas / dokter melakukan anamnesa terhadap pasien sbb :
* Keluhan Utama.
* Keluhan tambahan.
* Riwayat penyakit terdahulu.
* Riwayat penyakit keluarga.
* Lamanya sakit.
* Pengobatan yang sudah dilakukan.
* Riwayat alergi obat.
e. Petugas / dokter melakukan pemeriksaan, sbb :
+ Inspeksi : Keadaan umum pasien.
* Palpasi : Perabaan kemungkinan adanya benjolan, konsistensi
hepar / lien.
* Perkusi : Untuk menentukan batas jantung, keadaan paru, hepar,
kemungkinan adanya ascites.
* Auskultasi : Untuk mengetahui keadaan jantung, paru dan peristaltik
usus.
# Petugas / dokter melakukan rujukan pasien ( bila ada indikasi ) ke :
+ Laboratorium
+ Ruang Pelayanan Gilut
+ KIA
+ KB
+ RSU.
7. Petugas / dokter melakukan rujukan pasien dengan menggunakan blangko rujukan yang tersedian sesuai jenis pasien ( Umum, ASKES, JPK-MM ).
8. Petugas / dokter mencatat hasil pemeriksaan pada kartu rawat jalan.
9. Petugas / dokter melakukan penegakan diagonosa, menentukan tindakan therapi sesuai Buku Pedoman Pengobatan Dasar Puskesmas dan Buku Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis yang berlaku.
Berikut Pedoman Diagnosa dan Therapi Dasar 10 ( sepuluh ) Besar Penyakit di Puskesmas Banjarangkan II :
1. ISPA.
Untuk ISPA dan PNEUMONI pada bayi dan balita penatalaksanaannya harus sesuai dengan protap MTBS. Pada penderita dewasa kasus ISPA yang kami cantumkan adalah faringitis akut dan rhinitis.
1. FARINGITIS AKUT
Faringitis akut biasanya merupakan bagian dari infeksi akut orofaring yaitu tonsilofaringitis akut, atau bagian dari influenza (rinofaringitis). Penyebabnya biasanya virus yang menyerang jaringan limfoid faring. Iritasi makanan yang merangsang sering merupakan factor pencetus atau yang memperberat. Infeksi sekunder dapat terjadi oleh sebagian kuman seperti golongan streptokokus, haemophilus influenza, dan kuman anaerob.
Perjalanan penyakit tergantung pada adanya infeksi sekunder dan virulensi kumannya serta daya tahan tubuh penderita, tetapi biasanya faringitis sembuh sendiri dalam 3-5 hari.
Gambaran Klinis
+ Keluhan yang menonjol adalah nyeri tenggorokan dan sakit menelan yang mungkin didahului oleh pilek atau gejala influenza lainnya. Nyeri ini kadang sampai ke telinga (otalgia) karena adanya nyeri alih (referred pain) oleh N IX.
+ Heperemia pada jaringan limfoid didingding belakang faring yang kadang disertai folikel bereksudat menandakan adanya infeksi sekunder . pada permukaannya mungkin terlihat alur-alur secret mukopurulen.
Penatalaksanaan
+ Perawatan dan pengobatan tidak berbeda dengan influenza.
+ Untuk anak tidak ada anjuran obat khusus.
+ Penggunaan antiseptic local dan antibiotic isap tidak dianjurkan, sedangkan dekongestan dan antihistamin belum terbukti khasiatnya.
+ Infeksi sekunder jarang sekali terjadi, tetapi bila ada, diberikan antibiotik, dan yang terpilih adalah eriromisin 4x250 mg, amoksisillin 3x500mg atau penicillin V 3x500 mg
2. RINITIS
Rinitis tergolong infeksi saluran napas yang dapat muncul akut atau kronik. Rinitis akut biasanya disebabkan oleh virus yaitu pada selesma atau menyertai campak, tetapi dapat juga menyertai infeksi bakteri seperti pertusi. Rinitis disebut kronik bila radang berlangsung lebih dari 1 bulan. Rinitis alergi, rhinitis vasomotor, dan rhinitis medikamentosa digolongkan dalam rhinitis kronik. Rinitis kronik dapat berlanjut menjadi sinusitis. Salah satu bentuk rhinitis kronis adalah rhinitis atropi yang diduga disebabkan oleh kuman. Kliebsiella ozaena atau akibat sinusits kronis, difisiensi vitamin A.
Gambaran Klinis
+ Ingus kental umumnya nenunjukkan telah ada infeksi sekunder oleh bakteri.
+ Rinitis alergi maupun rhinitis vasomotor mudah dibedakan dari rhinitis infeksi karena ingus yang putih dan encer yang hanya keluar saat serangan saja.
+ Pada rhinitis atropi ingus kental diserta krusta berwarna hijau. Pada pemeriksaan hidung tampak rongga hidung yang lapang karena konka mengalami atropi.
Penatalaksanaan
+ Rinitis akut yang menyertai influenza dapat diobati dengan dekongestan sistemik seperti influenza
+ Kebiasan menggunakan kongestan tetes hidung pada rhinitis kronis sering menyebabkan terjadinya rhinitis medikamentosa yang secara klinis menyerupai rhinitis vasomotor.
+ Pada rhinitis atropi hidung dicuci dengan air garam. Dekongestan akan memperburuk keadaan.
+ Pengobatan rhinitis alergi atau rhinitis vasomotor dapat ditambah dengan CTM 1-2mg/kali
2. PENYAKIT KULIT ALERGI (URTIKARIA)
Urtikaria merupakan reaksi alergi terutama bermanifestasi dikulit berupa udema yang timbul cepat dan menghilang perlahan. Reaksinya dapat berlangsung akut dan kronis. Udema dapat terjadi dijaringan yang lebih dalam (angiodema)misalnya disubkutan, saluran napas, saluran cerna atau diorgan kardiovaskular. Udema di laring dapat berakibat fatal.
Penyebab
1. Obat-obatan (Penissilin)
2. Makanan(telur,ikan , kacang)
3. Gigitan serangga
4. Fotosensitizer(Fenothiasin)
5. Zat terisap (debu ,polutan)
6. Zat pajan(cat rambut)
7. Trauma fisik
8. Infeksi (gigitan)
9. Investasi parasit (cacing)
10. Factor psikis
11. Factor genetic
12. Penyakit sistemik (kolagen, keganasan)
Gambaran Klinis
+ Kelainan kulit berupa udema yang gatal(urtika), panas sampai nyeri. Udemmya beragam dari yang kecil (bentuk milier sampai yang luas berbentuk plakat.
+ Udem disaluran napas menyebabkan sumbatan jalan napas
Penatalaksanaan
+ Faktor penyebab harus dihilangkan
+ Bentuk yang akut dengan sumbatan jalan napas memerlukan injeksi adrenalin o,3 ml disusul dengan kortikosteroid : deksametason iv. 5 mg yang dapat diulang sesuai dengan kebutuhan. Sementara itu usahakan untuk membebaskan jalan napas, kemudian cepat rujuk penderita kerumah sakit.
+ Antipruritus topical misalnya bedan mengandung mentol atau kamfor hanya bersipat simtomatik, tetapi dapt memperberat keadaan.
3. REMATIK/ARTRITIS
Artritis dapat berupa osteoatritis (OA) atau arthritis rheumatoid (AR), tetapi yang paling banyak , dijumpai adalah asteotritis. Pada AO factor penyebab utama adalah trauma/ pengausan sendi sedangkan pada AR factor imunologi yang berperan.
Gejala arthritis bervariasi tergantung sendi mana yang terlibat. AO lebih sering menyerang sendi penyokong berat badan. Oleh karena itu obesitas harus dihindari. Sementara itu , AR mulanya lebih sering menyerang sendi-sendi kecil misalnya sendi pergelangan tangan atau kaki, tetapi dalam tingkat lanjut dapat menyerang juga sendi-sendi besar seperti sendi bahu dan pinggul.
Keluhan lain yang mirip dengan Artritis adalah rheumatism yang sebenarnya berasal dari jaringan lunak diluar sendi. Yang dikenal awal sebagai encok sebagian besar adalah rheumatism.
Gambaran Klinis
+ Sendi yang terserang biasanya bengkak, merah, dan nyeri
+ Serangan AR biasanya dimuali dengan gejala prodromal berupa badan lemah, hilang napsu makan, nyeri dan kaku seluruh badan. Gejala pada sendi biasanya timbul bertahap setelah beberapa minggu atau bulan.
+ Nyeri sendi pada AR bersipat hilang timbul, ada masa remisi, bersipat simetris bilateral, dan berhubungan dengan udara dingin.
+ Serangan OA biasanya sesisi. Gejala utamanya adalah nyeri sendi yang berhubungan dengan gerak. Penderita juga merasakan kaku pada sendi yang terserang.
+ Pada pemeriksaan radiologi OA biasanya memperlihatkan pelebaran sendi pada tahap awal, osteofit, sclerosis tulang, dan penyempitan rongga antar sendi pada tahap lanjut.
+ Deformitas dapat terjadi pada OA maupun AR setelah terjadi destruksi sendi.
Penatalaksanaan
+ Keluhan pada sendi/jaringan lunak disekitarnya dapat diatasi dengan analgesik biasa atau dengan anti inflamasi non steroid yang sebaiknya diberikan sesudah makan
aspirin 3x1 gr/hari
indometasin 3x25mg/hari
fenilbutason 3x200 mg/ hari
ibuprofen 3x 400 mg/hari
+ Mengistirahatkan sendi diperlukan dalam keadaan akut.
+ Selanjutnya pada OA, mungkin penderita perlu diperbaiki sikap tubuh, mengurangi berat badan, atau melakukan fisioterapi.
4. TUKAK LAMBUNG / GASTRITIS
Penyebab utama gastritis adalah iritasi lambung misalnya oleh sambal, cuka, nanas, dan teh kental,alcohol,obat,stress, emosi, atau oleh terlambat makan. Pada keadaan ini terjadi gangguan keseimbangan antara produksi asam lambung dan daya tahan mukosa. Penyakit sistemik, kebiasaan merokok, infeksi kuman Helycobacter jejuni juga berperan dalam penyakit ini.
Gambaran Klinis
+ Penderita biasanya mengeluh perih dan tidak enak uluhati.
+ Gastritis erosive akibat obat sering disertai pendarahan.
+ Nyeri epigastrium, perut kembung, mual, muntah tidak selalu ada.
Penatalaksanaan
+ Penderita gastritis akut memerlukan tirah baring. Selanjutnya ia harus membiasakan diri makan teratur dan menghindarkan makan yang merangsang.
+ Keluhan akan segera hilang dengan antasida (Al Hdroksida, Mg Hidroksida) yang diberikan menjelang tidur, pagi hari, dan diantara waktu makan
+ Bila muntah sampai mengganggu dapat diberikan tablet Proklorperazin 3 mg, satu jam sebelum makan (1-3 hari saja)
+ Penderita dengan tanda pendarahan seperti hematemesis atau melena perlu segera dirujuk ke rumah sakit karena kemungkinan terjadi pendarahan pada tukak lambung yang dapat melanjut menjadi perforasi.
5. GASTRO ENTERITIS (DIARE NONSPESIFIK)
Diare non spesifik adalah diarre yang bukan di sebabkan oleh kuman khusus maupun parasit. Penyebabnya adalah Virus, makanan yang merangsang atau yang tercemar toksin, gangguan pencernaan dsb.
WHO telah nenetapkan empat unsure utama dalam penanggulangan diarre akut yaitu :
1. Pemberian cairan, berupa upaya rehidrasi oral ( URO ) untuk mencegah maupun mengobati dehidrasi.
2. Melanjutkan Pemberian makanan seperti biasa, terutama Asi, selama diarre dalam masa penyembuhan.
3. Tidak menggunakan anti diarre, sementara anti biotik maupun anti mikroba hanya untuk tersangka kolera, disentri, atau terbukti giardiasis atau amubiasis.
4. Pemberian petunjuk yang efektive bagi ibu dan anak serta keluarga tentang upaya rehidrasi oral di rumah, tanda-tanda untuk merujuk, dan cara mencegah diarre di masa yang akan datang.
Gambaran klinis
+ Demam yang sering menyertai penyakit ini memperberat dehidrasi. Gejala dehidrasi tidak akan terlihat sampai kehilangan cairan mencapai 4-5 % berat badan.
+ Gejala dan tanda dehidrasi antara lain :
+ Rasa haus
+ Menurunnya turgor kulit
+ Mata cekung
+ Air mata tidak ada
+ Ubun – ubun besar cekung pada bayi
+ Oligouria,kemudian anuria
+ Hypotensi
+ Tachi kardi
+ Menurunnya kesadaran
+ Bila kekurangan cairan mencapai 10 % atau lebih penderita jatuh ke dalam dehidrasi berat dan bila berlanjut dapat terjadi syok dan kematian.
Penatalaksanaan
+ Dasar pengobatan Diarre akut adalah rehidrasi dan memperbaiki keseimbangan cairan dan elektrolit. Oleh karena itu langkah pertama adalah menentukan derajat dehidrasi.
+ Kemudian lakukan upaya rehidrasi seperti yang dilakukan terhadap dehidrasi karena kolera.
6. HYPERTENSI
Tekanan darah yang di anggap Normal pada orang dewasa adalah Sistolik 140 mmHg dan diastolic 90 mmHg. Orang yang tekanan darah sistoliknya mencapai 160 mmHg atau tekanan darah diastolic 95 mmHg tergolong dalam Hipertensi Borderline. Peningkatan tekanan sistolik erat hubungannya dengan berkurangnnya elastisitas pembuluh darah. Sekitar 80 % penderita hipertensi tergolong Hipertensi Essensial.
Gambaran Klinis
+ Umumnya hipertensi primer tidak memberikan keluhan dan tanda klinis khusus tetapi mungkin terdapat pusing, sakit kepala, rasa lelah.
+ Epistaksis, gelisah, muka merah, dan sebagainya bukanlah gejala spesifik.
+ Komplikasi yang menimbulkan gejala antara lain insufisiensi sirkulasi otak dan jantung, perdarahan pada retina, gagal jantung kiri.
+ Diagnosis Hipertensi di tegakkan apabila kenaikan tekanan darah ini bersifat menetap pada pemeriksaan ulang dalam jarak waktu 1 – 2 minggu.
Penatalaksanaan
+ Pengobatan farmakologi langsung di mulai pada hipertensi sedang berat. Hipertensi ringan sedang dicoba dulu diatasi dengan terapi non obat selama 2-4 minggu.
+ Tujuan Pengobatan hipertensi adalah mengendalikan tekanan darah untuk mencegah komplikasi ( kardiovaskular, pembuluh darah otak, dan ginjal).
+ Terapi nonfarmakologik meliputi pengendalian berat badan,diet rendah garam (kecuali bila penderita mendapat HCT), mwngurangi makan lemak, menghentikan kebiasaan merokok dan minum alcohol.
+ Terapi obat pada hipertensi ringan sedang dimulai dengan salah satu obat berikut ini :
+ Hidroklorotiazid (HCT) 12,5 - 25 mg / hari dosis tunggal pada pagi hari
+ Reserpin 0,1 - 0,25 sehari sebagai dosis tunggal
+ Propranolol 2 x 20 - 40 mg sehari
+ Kaptopril 2 x 12,5 - 25 mg sehari
# Sebaiknya dosis dimulai dengan yang terndah dengan evaluasi berkala dinaikkan sampai tercapai respons yang diinginkan. Lebih tua usia penderita penggunaan obat harus lebih hati-hati
# Hipertensi sedang berat dapat diobati dengan kombinasi HCT + propranolol, atau HCT + Kaptopril, bila obat tunggal tidak efektif.
# Pada hipertensi berat yang tidak sembuh dengan kombinasi diatas, ditambahkan metildopa 2 x 125 - 250 mg atau reserpin 0,1 - 0,25 mg/ hari
# Penderita asma bronchial tidak boleh diberikan beta bloker.
7. NYERI PINGGANG BAWAH/LOW BACK PAIN
Nyeri pinggang bawah atau Low Back Pain merupakan keluhan yang umum dan hampir semua orang pernah mengalami namun jarang berakibat berat atau fatal. Nyeri pinggang bawah adalah suatu gejala yang berupa rasa nyeri didaerah lumbosakral dan sakroiliaka yang dapat ditimbulkan oleh berbagai sebab dan pernah dialami oleh sebagian besar (ą80 % ) penduduk pada suatu ketika dalam hidupnya, atau paling sedikit satu kali dalam hidupnya.
Kadang disertai juga dengan penjalaran nyeri kearah tungkai dan kaki. Sering kali diagnosis yang pasti tisak dapat dibuat dengan mudah karena kurangnya pendekatan diagnostic dan penyebab nyeri pinggang bawah yang bermacam-macam serta melibatkan banyak disiplin ilmu.
Nyeri pinggang bawah dapat berasal dari nyeri setempat, yaitu berasal dari fasia, otot-otot paraspinal, korpus vertebra,ligamen, dan artikulasi ; nyeri radikuler, yaitu neri karena iritasi radiks, baik yang bersipat penekanan, sentuhan, peregangan, tarikan, atau jepitan; nyeri rujukan (referred pain) misalnya karena gangguan alat-alat intraabdominal, retroperitoneal, ,atau alat-alat di pelvis; nyeri iskemik seperti misalnya pada klaudikasio intermittens akibat penyumbatan pada percabangan aorta atau pada arteri iliaka komunis; dan nyeri akibat spasmus otot-otot,misalnya akibat sikap duduk, tidur berjalan atau berdiri yang salah atau karena kecemasan kronik/depresi (nyeri psikogenik)
8. EPILEPSI
Epilepsi adalah kelainan fungsional otak yang serangannya bersipat kumat-kumatan. Bentuk serangan yang paling sering adalah kejang yang dimulai dengan hilangnya kesadaran, hilangnya kendali terhadap gerak, dan terjadinya kejang tonik atau klonik pada anggota badan.
Dari pola serangannya epilepsy dibedakan atas epilepsy umum misalnya epilepsy grand mall, petit mall, atau mioklonik, dan epilepsy parsial misalnya serangan fokal motorik, fokal sensorik.
Kelainan organis di otak juga dapat menimbulkan epilepsy sehingga kemungkinan ini perlu dipikirkan.
Gambaran Klinis
+ Serangan grand mall sering diawali dengan aura berupa rasa terbenam atau melayang. Kemudian terjadi kejang tonik seluruh tubuh selama 20-30 detik diikuti kejang klonik pada otot anggota, otot punggung, dan otot leher yang berlangsung 2-3 menit. Kejang tampak bilateral, napas nmendengkur, mulut berbusa, dan dapat terjadi inkontinensia. Setelah kejang hilang penderita terbaring lemas atau tertidur 3-4 jam, kemudian kesadaran berangsur pulih. Setelah seangan sering pasien berada dalam keadaan bingung.
+ Serangan Petit mall disebut juga serangan lena diawali dengan hilangnya kesadaran selama 10-30 detik. Selama fase lena (absence) kegiatan motorik terhenti dan pasien dian tak beraksi. Kadang tampak seperti tak ada serangan tetapi ada kalanya timbul gerakan klonik pada mulut atau kelopak mata.
+ Serangan mioklonik merupakan kontraksi singkat suatu otot atau kelompok otot.
+ Serangan parsial sederhana motorik dapat bersipat kejang yang dimulai disalah satu tangan dan menjalar sesisi sedangkan serangan parsial sensorik dapat berupa serangan rasa baal atau kesemutan unilateral
Penatalaksanaan
1. Prinsip umum Terapi epilepsi idiopatik adalah mengurangi atau mencegah serangan, sedangkan terapi epilepsy organic ditujukan terhadap penyebab.
2. Faktor pencetus serangan, misalnya kelelahan, emosi, atau putusnya makan obat harus dihindarkan.
3. Bila terjadi serangan kejang, upayakan menghindarkan cedera akibat kejang, misalnya tergigitnya lidah atau luka dan cedera lain
4. Prinsip pengobatan antikejang:
1. Sedapat mungkin gunakan obat tunggal, dan mulai dengan dosis rendah
2. Bila obat tunggal dosis maksimal tidak efektif gunakan dua jenis obat dengan dosis terendah
3. Bila serangan tak teratasi pikirkan kemungkinan ketidakpatuhan penderita, penyebab organik, pilihan dan dosis obat yang kurang tepat.
4. Bila selama 2-3 tahun tidak timbul lagi serangan, obat dapat dihentikan bertahap
5. Pilihan antiepilepsi
1. Fokal/parsial Fenobarbital atau fenitoin
2. Umum Fenobarbital atau fenitoin
3. Tonik klonik Fenobarbital atau fenitoin
4. Mioklonik Klonazepam atau diazepam
Serangan lena Klonazepam atau diazepam
6. Dosis antiepilepsi untuk serangan kejang diberikan diazepam 0,05-0,15 mg/kgbb/hari i.v. dengan titrasi dosis sampai kejang hilang atau 0,4-0,6 mg/kgbb /hari perrektal.
7. Untuk maintenance:
1. Fenobarbital 1-5 mg/kgbb/ hari 1x/hari
2. Fenitoin 4-20 mg/ kgbb/hari 2-3x/hari
3. Klonazepam 3-8mg/hari
4. Sodium valproat 600 mg/ hari
9. ASMA BRONKIALE
Serangan asma bronkiale sering dicetuskan oleh ISPA, tekanan emosi, kerja fisik atau rangsang sesuatu yang bersipat allergen. Menjauhkan penderita dari sumber rangsang sangat penting, misalnya dari asap rokok, insektisida, debu, dan hewan piaraan.
Gambaran klinis
+ Sesak napas pada asma khas disertai suara mencici ( mengi) akibat kesulitan ekspirasi.
+ Pada auskultasi terdengar wheezing dan ekspirasi memanjang.
+ Keadaan sesak berat yang ditandai dengan giatnya otot-otot Bantu pernapasan dan sianosis dikenal sebagai status asmatikus yang dapat berakibat fatal.
Penatalaksanaan
+ Faktor pencetus serangan sedapat mungkin dihilangkan
+ Pada serangan ringan dapat diberikan suntikan adrenalin 1:1000 0,2-0,3 ml subkutan yang dapat diulangi beberapa kali dengan interval 10-15 menit. Dosis anak 0,01 mg/kgbb yang dapat diulang
+ Bronkodilator terpilih adalah teofillin 3x100-150 mg pada orang dewasa dan 10-15 mg/kgbb/hari untuk anak
+ Pilihan lain : salbutamol 3x2-4 mg untuk dewasa
+ Efedrin 3x10-15 mg dapat dipakai untuk menambah khasiat teofillin.
+ Prednison hanya dibutuhkan bila obat-obat diatas tidak menolong dan diberikan beberapa hari saja untuk mencegah status asmatikus. Namun pemberiannya tidak boleh terlambat.
+ Penderita status asmatikus memerlukan oksigen, terapi parenteral dan perawatan intensif sehingga harus dirujuk dengan tindakan awal sebagai berikut :
+ Penderita diinfus glukosa 5 %
+ Aminofillin 5-6 mg/ kgbb disuntikkan i.v perlahan bila penderita belum memperoleh teofillin oral
+ Prednison 2x10-20 mg sehari untuk beberapa hari, kemudian diturunkan dosisnya sehingga secepat mungkin dapat dihentikan
+ Bila belum dicoba diatasi adrenalin, maka dapat digunakan dulu adrenalin
10. SKIZOFRENIA
Skizofrenia merupakan salah satu gangguan jiwa (psikosis) yang serangannya mungkin timbul akut. Diagnosis skizofrenia ini baru dapat ditegakkan bila gangguan timbul pada usia sebelum 45 tahun dan gejalanya sudah berlangsung paling sedikit 6 bulan. Setiap pasien yang dicurigai menderita skizofrenia harus diperiksakan ke psikiater setelah disingkirkan adanya kelainan organic.
Gambaran Klinis
+ Penderita psikosis akut mungkin dating dengan tingkah laku gaduh dan mengacau atau mungkin didahului oleh gejala awal (prodromal) berupa penarikan diri dari hubungan social, gangguan nyata dalam fungsi peran misalnya sebagai pencari nafkah , bertingkah laku aneh gangguan nyata dalam hygiene diri dan berpakaian, afek yang tumpul, mendatar atau tak serasi, bicara ngelantur, menunjukkan ide (gagasan) yang aneh atau pikiran magis seperti takhyu, gagasan mirip waham yang menyangkut diri sendiri, adanya ilusi dan lain sebagainya.
+ Untuk menegagkkan diagnostic gangguan skizofrenia maka harus dipenuhi kriretia diagnostic dibawah ini :
+ Sedikitnya terdapat satu dari beberapa tanda ini selama suatu fase penyakit : waham yang aneh , halusinasi, hilangnya asosiasi pikiran (inkoherensi), tingkah laku kacau (Disorganized).
+ Penurunan fungsi penyesuaian dalam bidang pekerjaan, hubungan social, dan perawatan dirinya.
+ Gejala berlangsung terus menerus selama paling sedikit 6 bulan yang mencakup fase aktif dengan atau tanpa fase prodromal maupun fase residual yaitu masa setelah fase aktif yang menunjukkan sedikitnya 2 gejala prodromal.
+ Tidak ada kelainan organic.
Penatalaksanaan
+ Bila pasien sangat gaduh sehingga mengganggu lingkungan atau membahayakan orang lain maupun dirinya sendiri maka penderita harus dirawat.
+ Berikan klorpromazin 3x 100 mg yang dapat dinaikkan ( setelah 1 minggu) menjadi 3x200 mg bila belum tampak perbaikan. Bila telah ada respon maka dosis dipertahankan selama 4 minggu sampai pasien tenang dan kembali dapat mengurus dirinya sendiri
+ Selanjutnya setiap minggu dosis diturunkan secara bertahap dan dosis rumat ( Biasanya 3x50-100 mg) dipertahankan selam 3 bulan
+ Obat pilihan lain adalah tioridazin 3x 100 mg, triffluoperazin 3x5mg, haloperidol 3x1-5 mg
+ Untuk pasien yang sukar untuk ditemui, dianjurkan pemberian injeksi flufenazin dekanoat sekali sebulan.
+ Gunakanlah dosis efektif terkecil untuk mengurangi efek samping
+ Penderita harus dijauhkan dari benda-benda yang dapat membahayakan dirinya atau orang disekitarnya dan kebersihan diri serta kebutuhan hidupnya sehari-hari harus tetap diperhatikan
10. Petugas / dokter memberikan resep obat kepada pasien untuk pengambilan obat di apotik Puskesmas.
11. Petugas mengisi Register rawat jalan berdasarkan catatan pada kartu rawat jalan dan membuat sensus harian penyakit.
Sebagai Pedoman kerja bagi petugas medis / paramedis dalam melakukan pemeriksaan di ruang Pengobatan.
2. SASARAN :
Tenaga Medis / Paramedis dalam melakukan pemeriksaan pasien di ruang Pengobatan.
3. URAIAN UMUM :
* Anamnesa :
Wawancara terhadap pasien atau keluarganya mengenai :
+ Keluhan Utama.
+ Keluhan tambahan.
+ Riwayat penyakit terdahulu.
+ Riwayat penyakit keluarga.
+ Lamanya sakit.
+ Pengobatan yang sudah dilakukan.
+ Riwayat alergi obat.
o Pemeriksaan Fisik :
+ Inspeksi : Keadaan umum pasien.
* Palpasi : Perabaan kemungkinan adanya benjolan,konsistensi
hepar / lien.
* Perkusi : Untuk menentukan batas jantung, keadaan paru, hepar,
kemungkinan adanya ascites.
* Auskultasi : Untuk mengetahui keadaan jantung, paru dan peristaltik
usus.
o Pelayanan Rujukan :
Untuk pasien yang tidak mampu ditangani di Puskasmas diberikan surat rujukan ke RSU dengan menggunakan blangko surat rujukan yang tersedia sesuai jenis pasien ( pasien umum, ASKES, JPK-MM ).
4. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN :
1. Pasien dari loket pendaftaran menuju Ruang Pengobatan untuk menyerahkan kartu rawat jalan yang diterimanya di loket, kemudian menunggu di ruang tunggu sesuai antrean.
2. Petugas di R. Pengobatan memanggil pasien untuk masuk ke Ruang periksa sesuai nomor urut.
3. Petugas mencocokkan identitas pasien dengan kartu rawat jalan.
4. Petugas / dokter melakukan anamnesa terhadap pasien sbb :
* Keluhan Utama.
* Keluhan tambahan.
* Riwayat penyakit terdahulu.
* Riwayat penyakit keluarga.
* Lamanya sakit.
* Pengobatan yang sudah dilakukan.
* Riwayat alergi obat.
e. Petugas / dokter melakukan pemeriksaan, sbb :
+ Inspeksi : Keadaan umum pasien.
* Palpasi : Perabaan kemungkinan adanya benjolan, konsistensi
hepar / lien.
* Perkusi : Untuk menentukan batas jantung, keadaan paru, hepar,
kemungkinan adanya ascites.
* Auskultasi : Untuk mengetahui keadaan jantung, paru dan peristaltik
usus.
# Petugas / dokter melakukan rujukan pasien ( bila ada indikasi ) ke :
+ Laboratorium
+ Ruang Pelayanan Gilut
+ KIA
+ KB
+ RSU.
7. Petugas / dokter melakukan rujukan pasien dengan menggunakan blangko rujukan yang tersedian sesuai jenis pasien ( Umum, ASKES, JPK-MM ).
8. Petugas / dokter mencatat hasil pemeriksaan pada kartu rawat jalan.
9. Petugas / dokter melakukan penegakan diagonosa, menentukan tindakan therapi sesuai Buku Pedoman Pengobatan Dasar Puskesmas dan Buku Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis yang berlaku.
Berikut Pedoman Diagnosa dan Therapi Dasar 10 ( sepuluh ) Besar Penyakit di Puskesmas Banjarangkan II :
1. ISPA.
Untuk ISPA dan PNEUMONI pada bayi dan balita penatalaksanaannya harus sesuai dengan protap MTBS. Pada penderita dewasa kasus ISPA yang kami cantumkan adalah faringitis akut dan rhinitis.
1. FARINGITIS AKUT
Faringitis akut biasanya merupakan bagian dari infeksi akut orofaring yaitu tonsilofaringitis akut, atau bagian dari influenza (rinofaringitis). Penyebabnya biasanya virus yang menyerang jaringan limfoid faring. Iritasi makanan yang merangsang sering merupakan factor pencetus atau yang memperberat. Infeksi sekunder dapat terjadi oleh sebagian kuman seperti golongan streptokokus, haemophilus influenza, dan kuman anaerob.
Perjalanan penyakit tergantung pada adanya infeksi sekunder dan virulensi kumannya serta daya tahan tubuh penderita, tetapi biasanya faringitis sembuh sendiri dalam 3-5 hari.
Gambaran Klinis
+ Keluhan yang menonjol adalah nyeri tenggorokan dan sakit menelan yang mungkin didahului oleh pilek atau gejala influenza lainnya. Nyeri ini kadang sampai ke telinga (otalgia) karena adanya nyeri alih (referred pain) oleh N IX.
+ Heperemia pada jaringan limfoid didingding belakang faring yang kadang disertai folikel bereksudat menandakan adanya infeksi sekunder . pada permukaannya mungkin terlihat alur-alur secret mukopurulen.
Penatalaksanaan
+ Perawatan dan pengobatan tidak berbeda dengan influenza.
+ Untuk anak tidak ada anjuran obat khusus.
+ Penggunaan antiseptic local dan antibiotic isap tidak dianjurkan, sedangkan dekongestan dan antihistamin belum terbukti khasiatnya.
+ Infeksi sekunder jarang sekali terjadi, tetapi bila ada, diberikan antibiotik, dan yang terpilih adalah eriromisin 4x250 mg, amoksisillin 3x500mg atau penicillin V 3x500 mg
2. RINITIS
Rinitis tergolong infeksi saluran napas yang dapat muncul akut atau kronik. Rinitis akut biasanya disebabkan oleh virus yaitu pada selesma atau menyertai campak, tetapi dapat juga menyertai infeksi bakteri seperti pertusi. Rinitis disebut kronik bila radang berlangsung lebih dari 1 bulan. Rinitis alergi, rhinitis vasomotor, dan rhinitis medikamentosa digolongkan dalam rhinitis kronik. Rinitis kronik dapat berlanjut menjadi sinusitis. Salah satu bentuk rhinitis kronis adalah rhinitis atropi yang diduga disebabkan oleh kuman. Kliebsiella ozaena atau akibat sinusits kronis, difisiensi vitamin A.
Gambaran Klinis
+ Ingus kental umumnya nenunjukkan telah ada infeksi sekunder oleh bakteri.
+ Rinitis alergi maupun rhinitis vasomotor mudah dibedakan dari rhinitis infeksi karena ingus yang putih dan encer yang hanya keluar saat serangan saja.
+ Pada rhinitis atropi ingus kental diserta krusta berwarna hijau. Pada pemeriksaan hidung tampak rongga hidung yang lapang karena konka mengalami atropi.
Penatalaksanaan
+ Rinitis akut yang menyertai influenza dapat diobati dengan dekongestan sistemik seperti influenza
+ Kebiasan menggunakan kongestan tetes hidung pada rhinitis kronis sering menyebabkan terjadinya rhinitis medikamentosa yang secara klinis menyerupai rhinitis vasomotor.
+ Pada rhinitis atropi hidung dicuci dengan air garam. Dekongestan akan memperburuk keadaan.
+ Pengobatan rhinitis alergi atau rhinitis vasomotor dapat ditambah dengan CTM 1-2mg/kali
2. PENYAKIT KULIT ALERGI (URTIKARIA)
Urtikaria merupakan reaksi alergi terutama bermanifestasi dikulit berupa udema yang timbul cepat dan menghilang perlahan. Reaksinya dapat berlangsung akut dan kronis. Udema dapat terjadi dijaringan yang lebih dalam (angiodema)misalnya disubkutan, saluran napas, saluran cerna atau diorgan kardiovaskular. Udema di laring dapat berakibat fatal.
Penyebab
1. Obat-obatan (Penissilin)
2. Makanan(telur,ikan , kacang)
3. Gigitan serangga
4. Fotosensitizer(Fenothiasin)
5. Zat terisap (debu ,polutan)
6. Zat pajan(cat rambut)
7. Trauma fisik
8. Infeksi (gigitan)
9. Investasi parasit (cacing)
10. Factor psikis
11. Factor genetic
12. Penyakit sistemik (kolagen, keganasan)
Gambaran Klinis
+ Kelainan kulit berupa udema yang gatal(urtika), panas sampai nyeri. Udemmya beragam dari yang kecil (bentuk milier sampai yang luas berbentuk plakat.
+ Udem disaluran napas menyebabkan sumbatan jalan napas
Penatalaksanaan
+ Faktor penyebab harus dihilangkan
+ Bentuk yang akut dengan sumbatan jalan napas memerlukan injeksi adrenalin o,3 ml disusul dengan kortikosteroid : deksametason iv. 5 mg yang dapat diulang sesuai dengan kebutuhan. Sementara itu usahakan untuk membebaskan jalan napas, kemudian cepat rujuk penderita kerumah sakit.
+ Antipruritus topical misalnya bedan mengandung mentol atau kamfor hanya bersipat simtomatik, tetapi dapt memperberat keadaan.
3. REMATIK/ARTRITIS
Artritis dapat berupa osteoatritis (OA) atau arthritis rheumatoid (AR), tetapi yang paling banyak , dijumpai adalah asteotritis. Pada AO factor penyebab utama adalah trauma/ pengausan sendi sedangkan pada AR factor imunologi yang berperan.
Gejala arthritis bervariasi tergantung sendi mana yang terlibat. AO lebih sering menyerang sendi penyokong berat badan. Oleh karena itu obesitas harus dihindari. Sementara itu , AR mulanya lebih sering menyerang sendi-sendi kecil misalnya sendi pergelangan tangan atau kaki, tetapi dalam tingkat lanjut dapat menyerang juga sendi-sendi besar seperti sendi bahu dan pinggul.
Keluhan lain yang mirip dengan Artritis adalah rheumatism yang sebenarnya berasal dari jaringan lunak diluar sendi. Yang dikenal awal sebagai encok sebagian besar adalah rheumatism.
Gambaran Klinis
+ Sendi yang terserang biasanya bengkak, merah, dan nyeri
+ Serangan AR biasanya dimuali dengan gejala prodromal berupa badan lemah, hilang napsu makan, nyeri dan kaku seluruh badan. Gejala pada sendi biasanya timbul bertahap setelah beberapa minggu atau bulan.
+ Nyeri sendi pada AR bersipat hilang timbul, ada masa remisi, bersipat simetris bilateral, dan berhubungan dengan udara dingin.
+ Serangan OA biasanya sesisi. Gejala utamanya adalah nyeri sendi yang berhubungan dengan gerak. Penderita juga merasakan kaku pada sendi yang terserang.
+ Pada pemeriksaan radiologi OA biasanya memperlihatkan pelebaran sendi pada tahap awal, osteofit, sclerosis tulang, dan penyempitan rongga antar sendi pada tahap lanjut.
+ Deformitas dapat terjadi pada OA maupun AR setelah terjadi destruksi sendi.
Penatalaksanaan
+ Keluhan pada sendi/jaringan lunak disekitarnya dapat diatasi dengan analgesik biasa atau dengan anti inflamasi non steroid yang sebaiknya diberikan sesudah makan
aspirin 3x1 gr/hari
indometasin 3x25mg/hari
fenilbutason 3x200 mg/ hari
ibuprofen 3x 400 mg/hari
+ Mengistirahatkan sendi diperlukan dalam keadaan akut.
+ Selanjutnya pada OA, mungkin penderita perlu diperbaiki sikap tubuh, mengurangi berat badan, atau melakukan fisioterapi.
4. TUKAK LAMBUNG / GASTRITIS
Penyebab utama gastritis adalah iritasi lambung misalnya oleh sambal, cuka, nanas, dan teh kental,alcohol,obat,stress, emosi, atau oleh terlambat makan. Pada keadaan ini terjadi gangguan keseimbangan antara produksi asam lambung dan daya tahan mukosa. Penyakit sistemik, kebiasaan merokok, infeksi kuman Helycobacter jejuni juga berperan dalam penyakit ini.
Gambaran Klinis
+ Penderita biasanya mengeluh perih dan tidak enak uluhati.
+ Gastritis erosive akibat obat sering disertai pendarahan.
+ Nyeri epigastrium, perut kembung, mual, muntah tidak selalu ada.
Penatalaksanaan
+ Penderita gastritis akut memerlukan tirah baring. Selanjutnya ia harus membiasakan diri makan teratur dan menghindarkan makan yang merangsang.
+ Keluhan akan segera hilang dengan antasida (Al Hdroksida, Mg Hidroksida) yang diberikan menjelang tidur, pagi hari, dan diantara waktu makan
+ Bila muntah sampai mengganggu dapat diberikan tablet Proklorperazin 3 mg, satu jam sebelum makan (1-3 hari saja)
+ Penderita dengan tanda pendarahan seperti hematemesis atau melena perlu segera dirujuk ke rumah sakit karena kemungkinan terjadi pendarahan pada tukak lambung yang dapat melanjut menjadi perforasi.
5. GASTRO ENTERITIS (DIARE NONSPESIFIK)
Diare non spesifik adalah diarre yang bukan di sebabkan oleh kuman khusus maupun parasit. Penyebabnya adalah Virus, makanan yang merangsang atau yang tercemar toksin, gangguan pencernaan dsb.
WHO telah nenetapkan empat unsure utama dalam penanggulangan diarre akut yaitu :
1. Pemberian cairan, berupa upaya rehidrasi oral ( URO ) untuk mencegah maupun mengobati dehidrasi.
2. Melanjutkan Pemberian makanan seperti biasa, terutama Asi, selama diarre dalam masa penyembuhan.
3. Tidak menggunakan anti diarre, sementara anti biotik maupun anti mikroba hanya untuk tersangka kolera, disentri, atau terbukti giardiasis atau amubiasis.
4. Pemberian petunjuk yang efektive bagi ibu dan anak serta keluarga tentang upaya rehidrasi oral di rumah, tanda-tanda untuk merujuk, dan cara mencegah diarre di masa yang akan datang.
Gambaran klinis
+ Demam yang sering menyertai penyakit ini memperberat dehidrasi. Gejala dehidrasi tidak akan terlihat sampai kehilangan cairan mencapai 4-5 % berat badan.
+ Gejala dan tanda dehidrasi antara lain :
+ Rasa haus
+ Menurunnya turgor kulit
+ Mata cekung
+ Air mata tidak ada
+ Ubun – ubun besar cekung pada bayi
+ Oligouria,kemudian anuria
+ Hypotensi
+ Tachi kardi
+ Menurunnya kesadaran
+ Bila kekurangan cairan mencapai 10 % atau lebih penderita jatuh ke dalam dehidrasi berat dan bila berlanjut dapat terjadi syok dan kematian.
Penatalaksanaan
+ Dasar pengobatan Diarre akut adalah rehidrasi dan memperbaiki keseimbangan cairan dan elektrolit. Oleh karena itu langkah pertama adalah menentukan derajat dehidrasi.
+ Kemudian lakukan upaya rehidrasi seperti yang dilakukan terhadap dehidrasi karena kolera.
6. HYPERTENSI
Tekanan darah yang di anggap Normal pada orang dewasa adalah Sistolik 140 mmHg dan diastolic 90 mmHg. Orang yang tekanan darah sistoliknya mencapai 160 mmHg atau tekanan darah diastolic 95 mmHg tergolong dalam Hipertensi Borderline. Peningkatan tekanan sistolik erat hubungannya dengan berkurangnnya elastisitas pembuluh darah. Sekitar 80 % penderita hipertensi tergolong Hipertensi Essensial.
Gambaran Klinis
+ Umumnya hipertensi primer tidak memberikan keluhan dan tanda klinis khusus tetapi mungkin terdapat pusing, sakit kepala, rasa lelah.
+ Epistaksis, gelisah, muka merah, dan sebagainya bukanlah gejala spesifik.
+ Komplikasi yang menimbulkan gejala antara lain insufisiensi sirkulasi otak dan jantung, perdarahan pada retina, gagal jantung kiri.
+ Diagnosis Hipertensi di tegakkan apabila kenaikan tekanan darah ini bersifat menetap pada pemeriksaan ulang dalam jarak waktu 1 – 2 minggu.
Penatalaksanaan
+ Pengobatan farmakologi langsung di mulai pada hipertensi sedang berat. Hipertensi ringan sedang dicoba dulu diatasi dengan terapi non obat selama 2-4 minggu.
+ Tujuan Pengobatan hipertensi adalah mengendalikan tekanan darah untuk mencegah komplikasi ( kardiovaskular, pembuluh darah otak, dan ginjal).
+ Terapi nonfarmakologik meliputi pengendalian berat badan,diet rendah garam (kecuali bila penderita mendapat HCT), mwngurangi makan lemak, menghentikan kebiasaan merokok dan minum alcohol.
+ Terapi obat pada hipertensi ringan sedang dimulai dengan salah satu obat berikut ini :
+ Hidroklorotiazid (HCT) 12,5 - 25 mg / hari dosis tunggal pada pagi hari
+ Reserpin 0,1 - 0,25 sehari sebagai dosis tunggal
+ Propranolol 2 x 20 - 40 mg sehari
+ Kaptopril 2 x 12,5 - 25 mg sehari
# Sebaiknya dosis dimulai dengan yang terndah dengan evaluasi berkala dinaikkan sampai tercapai respons yang diinginkan. Lebih tua usia penderita penggunaan obat harus lebih hati-hati
# Hipertensi sedang berat dapat diobati dengan kombinasi HCT + propranolol, atau HCT + Kaptopril, bila obat tunggal tidak efektif.
# Pada hipertensi berat yang tidak sembuh dengan kombinasi diatas, ditambahkan metildopa 2 x 125 - 250 mg atau reserpin 0,1 - 0,25 mg/ hari
# Penderita asma bronchial tidak boleh diberikan beta bloker.
7. NYERI PINGGANG BAWAH/LOW BACK PAIN
Nyeri pinggang bawah atau Low Back Pain merupakan keluhan yang umum dan hampir semua orang pernah mengalami namun jarang berakibat berat atau fatal. Nyeri pinggang bawah adalah suatu gejala yang berupa rasa nyeri didaerah lumbosakral dan sakroiliaka yang dapat ditimbulkan oleh berbagai sebab dan pernah dialami oleh sebagian besar (ą80 % ) penduduk pada suatu ketika dalam hidupnya, atau paling sedikit satu kali dalam hidupnya.
Kadang disertai juga dengan penjalaran nyeri kearah tungkai dan kaki. Sering kali diagnosis yang pasti tisak dapat dibuat dengan mudah karena kurangnya pendekatan diagnostic dan penyebab nyeri pinggang bawah yang bermacam-macam serta melibatkan banyak disiplin ilmu.
Nyeri pinggang bawah dapat berasal dari nyeri setempat, yaitu berasal dari fasia, otot-otot paraspinal, korpus vertebra,ligamen, dan artikulasi ; nyeri radikuler, yaitu neri karena iritasi radiks, baik yang bersipat penekanan, sentuhan, peregangan, tarikan, atau jepitan; nyeri rujukan (referred pain) misalnya karena gangguan alat-alat intraabdominal, retroperitoneal, ,atau alat-alat di pelvis; nyeri iskemik seperti misalnya pada klaudikasio intermittens akibat penyumbatan pada percabangan aorta atau pada arteri iliaka komunis; dan nyeri akibat spasmus otot-otot,misalnya akibat sikap duduk, tidur berjalan atau berdiri yang salah atau karena kecemasan kronik/depresi (nyeri psikogenik)
8. EPILEPSI
Epilepsi adalah kelainan fungsional otak yang serangannya bersipat kumat-kumatan. Bentuk serangan yang paling sering adalah kejang yang dimulai dengan hilangnya kesadaran, hilangnya kendali terhadap gerak, dan terjadinya kejang tonik atau klonik pada anggota badan.
Dari pola serangannya epilepsy dibedakan atas epilepsy umum misalnya epilepsy grand mall, petit mall, atau mioklonik, dan epilepsy parsial misalnya serangan fokal motorik, fokal sensorik.
Kelainan organis di otak juga dapat menimbulkan epilepsy sehingga kemungkinan ini perlu dipikirkan.
Gambaran Klinis
+ Serangan grand mall sering diawali dengan aura berupa rasa terbenam atau melayang. Kemudian terjadi kejang tonik seluruh tubuh selama 20-30 detik diikuti kejang klonik pada otot anggota, otot punggung, dan otot leher yang berlangsung 2-3 menit. Kejang tampak bilateral, napas nmendengkur, mulut berbusa, dan dapat terjadi inkontinensia. Setelah kejang hilang penderita terbaring lemas atau tertidur 3-4 jam, kemudian kesadaran berangsur pulih. Setelah seangan sering pasien berada dalam keadaan bingung.
+ Serangan Petit mall disebut juga serangan lena diawali dengan hilangnya kesadaran selama 10-30 detik. Selama fase lena (absence) kegiatan motorik terhenti dan pasien dian tak beraksi. Kadang tampak seperti tak ada serangan tetapi ada kalanya timbul gerakan klonik pada mulut atau kelopak mata.
+ Serangan mioklonik merupakan kontraksi singkat suatu otot atau kelompok otot.
+ Serangan parsial sederhana motorik dapat bersipat kejang yang dimulai disalah satu tangan dan menjalar sesisi sedangkan serangan parsial sensorik dapat berupa serangan rasa baal atau kesemutan unilateral
Penatalaksanaan
1. Prinsip umum Terapi epilepsi idiopatik adalah mengurangi atau mencegah serangan, sedangkan terapi epilepsy organic ditujukan terhadap penyebab.
2. Faktor pencetus serangan, misalnya kelelahan, emosi, atau putusnya makan obat harus dihindarkan.
3. Bila terjadi serangan kejang, upayakan menghindarkan cedera akibat kejang, misalnya tergigitnya lidah atau luka dan cedera lain
4. Prinsip pengobatan antikejang:
1. Sedapat mungkin gunakan obat tunggal, dan mulai dengan dosis rendah
2. Bila obat tunggal dosis maksimal tidak efektif gunakan dua jenis obat dengan dosis terendah
3. Bila serangan tak teratasi pikirkan kemungkinan ketidakpatuhan penderita, penyebab organik, pilihan dan dosis obat yang kurang tepat.
4. Bila selama 2-3 tahun tidak timbul lagi serangan, obat dapat dihentikan bertahap
5. Pilihan antiepilepsi
1. Fokal/parsial Fenobarbital atau fenitoin
2. Umum Fenobarbital atau fenitoin
3. Tonik klonik Fenobarbital atau fenitoin
4. Mioklonik Klonazepam atau diazepam
Serangan lena Klonazepam atau diazepam
6. Dosis antiepilepsi untuk serangan kejang diberikan diazepam 0,05-0,15 mg/kgbb/hari i.v. dengan titrasi dosis sampai kejang hilang atau 0,4-0,6 mg/kgbb /hari perrektal.
7. Untuk maintenance:
1. Fenobarbital 1-5 mg/kgbb/ hari 1x/hari
2. Fenitoin 4-20 mg/ kgbb/hari 2-3x/hari
3. Klonazepam 3-8mg/hari
4. Sodium valproat 600 mg/ hari
9. ASMA BRONKIALE
Serangan asma bronkiale sering dicetuskan oleh ISPA, tekanan emosi, kerja fisik atau rangsang sesuatu yang bersipat allergen. Menjauhkan penderita dari sumber rangsang sangat penting, misalnya dari asap rokok, insektisida, debu, dan hewan piaraan.
Gambaran klinis
+ Sesak napas pada asma khas disertai suara mencici ( mengi) akibat kesulitan ekspirasi.
+ Pada auskultasi terdengar wheezing dan ekspirasi memanjang.
+ Keadaan sesak berat yang ditandai dengan giatnya otot-otot Bantu pernapasan dan sianosis dikenal sebagai status asmatikus yang dapat berakibat fatal.
Penatalaksanaan
+ Faktor pencetus serangan sedapat mungkin dihilangkan
+ Pada serangan ringan dapat diberikan suntikan adrenalin 1:1000 0,2-0,3 ml subkutan yang dapat diulangi beberapa kali dengan interval 10-15 menit. Dosis anak 0,01 mg/kgbb yang dapat diulang
+ Bronkodilator terpilih adalah teofillin 3x100-150 mg pada orang dewasa dan 10-15 mg/kgbb/hari untuk anak
+ Pilihan lain : salbutamol 3x2-4 mg untuk dewasa
+ Efedrin 3x10-15 mg dapat dipakai untuk menambah khasiat teofillin.
+ Prednison hanya dibutuhkan bila obat-obat diatas tidak menolong dan diberikan beberapa hari saja untuk mencegah status asmatikus. Namun pemberiannya tidak boleh terlambat.
+ Penderita status asmatikus memerlukan oksigen, terapi parenteral dan perawatan intensif sehingga harus dirujuk dengan tindakan awal sebagai berikut :
+ Penderita diinfus glukosa 5 %
+ Aminofillin 5-6 mg/ kgbb disuntikkan i.v perlahan bila penderita belum memperoleh teofillin oral
+ Prednison 2x10-20 mg sehari untuk beberapa hari, kemudian diturunkan dosisnya sehingga secepat mungkin dapat dihentikan
+ Bila belum dicoba diatasi adrenalin, maka dapat digunakan dulu adrenalin
10. SKIZOFRENIA
Skizofrenia merupakan salah satu gangguan jiwa (psikosis) yang serangannya mungkin timbul akut. Diagnosis skizofrenia ini baru dapat ditegakkan bila gangguan timbul pada usia sebelum 45 tahun dan gejalanya sudah berlangsung paling sedikit 6 bulan. Setiap pasien yang dicurigai menderita skizofrenia harus diperiksakan ke psikiater setelah disingkirkan adanya kelainan organic.
Gambaran Klinis
+ Penderita psikosis akut mungkin dating dengan tingkah laku gaduh dan mengacau atau mungkin didahului oleh gejala awal (prodromal) berupa penarikan diri dari hubungan social, gangguan nyata dalam fungsi peran misalnya sebagai pencari nafkah , bertingkah laku aneh gangguan nyata dalam hygiene diri dan berpakaian, afek yang tumpul, mendatar atau tak serasi, bicara ngelantur, menunjukkan ide (gagasan) yang aneh atau pikiran magis seperti takhyu, gagasan mirip waham yang menyangkut diri sendiri, adanya ilusi dan lain sebagainya.
+ Untuk menegagkkan diagnostic gangguan skizofrenia maka harus dipenuhi kriretia diagnostic dibawah ini :
+ Sedikitnya terdapat satu dari beberapa tanda ini selama suatu fase penyakit : waham yang aneh , halusinasi, hilangnya asosiasi pikiran (inkoherensi), tingkah laku kacau (Disorganized).
+ Penurunan fungsi penyesuaian dalam bidang pekerjaan, hubungan social, dan perawatan dirinya.
+ Gejala berlangsung terus menerus selama paling sedikit 6 bulan yang mencakup fase aktif dengan atau tanpa fase prodromal maupun fase residual yaitu masa setelah fase aktif yang menunjukkan sedikitnya 2 gejala prodromal.
+ Tidak ada kelainan organic.
Penatalaksanaan
+ Bila pasien sangat gaduh sehingga mengganggu lingkungan atau membahayakan orang lain maupun dirinya sendiri maka penderita harus dirawat.
+ Berikan klorpromazin 3x 100 mg yang dapat dinaikkan ( setelah 1 minggu) menjadi 3x200 mg bila belum tampak perbaikan. Bila telah ada respon maka dosis dipertahankan selama 4 minggu sampai pasien tenang dan kembali dapat mengurus dirinya sendiri
+ Selanjutnya setiap minggu dosis diturunkan secara bertahap dan dosis rumat ( Biasanya 3x50-100 mg) dipertahankan selam 3 bulan
+ Obat pilihan lain adalah tioridazin 3x 100 mg, triffluoperazin 3x5mg, haloperidol 3x1-5 mg
+ Untuk pasien yang sukar untuk ditemui, dianjurkan pemberian injeksi flufenazin dekanoat sekali sebulan.
+ Gunakanlah dosis efektif terkecil untuk mengurangi efek samping
+ Penderita harus dijauhkan dari benda-benda yang dapat membahayakan dirinya atau orang disekitarnya dan kebersihan diri serta kebutuhan hidupnya sehari-hari harus tetap diperhatikan
10. Petugas / dokter memberikan resep obat kepada pasien untuk pengambilan obat di apotik Puskesmas.
11. Petugas mengisi Register rawat jalan berdasarkan catatan pada kartu rawat jalan dan membuat sensus harian penyakit.
Sabtu, 01 Mei 2010
Pentingnya Kesiapsiagaan
Tujuan
Mengurangi ancaman
Untuk mencegah ancaman secara mutlak memang mustahil, seperti
gunung api meletus. Namun ada banyak cara atau tindakan yang bisa
dilakukan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya ancaman atau
mengurangi akibat ancaman.
Contoh: Untuk mencegah banjir, sebelum musim hujan masyarakat
bisa membersihkan saluran air, got dan sungai serta tidak membuang
sampah di sembarang tempat, apalagi di sungai.
Mengurangi kerentanan masyarakat
Kerentanan masyarakat dapat dikurangi apabila masyarakat sudah
mempersiapkan diri, akan lebih mudah untuk menentukan tindakan
penyelamatan pada saat bencana terjadi. Persiapan yang baik akan bisa
membantu masyarakat untuk melakukan tindakan yang tepat guna
dan tepat waktu.
Contoh: Masyarakat yang pernah dilanda bencana gunung api meletus
dapat mempersiapkan diri dengan melakukan pengawasan aktifitas
gunung api dan membuat perencanaan evakuasi, penyelamatan serta
mendapatkan pelatihan kesiapsiagaan bencana.
Mengurangi akibat
Untuk mengurangi penderitaan akibat suatu ancaman, masyarakat perlu
mempunyai persiapan supaya bisa cepat bertinda
Mengurangi ancaman
Untuk mencegah ancaman secara mutlak memang mustahil, seperti
gunung api meletus. Namun ada banyak cara atau tindakan yang bisa
dilakukan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya ancaman atau
mengurangi akibat ancaman.
Contoh: Untuk mencegah banjir, sebelum musim hujan masyarakat
bisa membersihkan saluran air, got dan sungai serta tidak membuang
sampah di sembarang tempat, apalagi di sungai.
Mengurangi kerentanan masyarakat
Kerentanan masyarakat dapat dikurangi apabila masyarakat sudah
mempersiapkan diri, akan lebih mudah untuk menentukan tindakan
penyelamatan pada saat bencana terjadi. Persiapan yang baik akan bisa
membantu masyarakat untuk melakukan tindakan yang tepat guna
dan tepat waktu.
Contoh: Masyarakat yang pernah dilanda bencana gunung api meletus
dapat mempersiapkan diri dengan melakukan pengawasan aktifitas
gunung api dan membuat perencanaan evakuasi, penyelamatan serta
mendapatkan pelatihan kesiapsiagaan bencana.
Mengurangi akibat
Untuk mengurangi penderitaan akibat suatu ancaman, masyarakat perlu
mempunyai persiapan supaya bisa cepat bertinda
Pemerintah Akan Terapkan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit
Pemerintah berencana menerapkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) rumah sakit guna meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan rumah-rumah sakit di Indonesia.
"Sudah diproses dengan semua pemangku kepentingan terkait. September ini kita finalisasi, targetnya tahun ini selesai dan bisa segera diterapkan," kata Direktur Bina Pelayanan Medik Spesialistik Departemen Kesehatan Ratna Rosita Hendardji di Jakarta, Senin.
SPM rumah sakit tersebut, kata dia, akan ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan.
Ia menjelaskan SPM rumah sakit terdiri atas berbagai aturan mengenai standar pelayanan kesehatan yang dilakukan di rumah sakit seperti standar respon kasus gawat darurat, standar penanganan masalah gawat darurat, standar pelayanan medis, dan standar pengelolaan limbah rumah sakit.
Ratna mencontohkan, standar pelayanan gawat darurat antara lain meliputi prosedur penanganan situasi gawat darurat dan respon gawat darurat.
"Misalnya, tidak boleh ada uang muka untuk pelayanan gawat darurat, respon gawat darurat tidak boleh lebih dari 10 menit," ujarnya.
Intinya setiap pelayanan pengelolaan rumah sakit harus memenuhi standar, sebab kalau standar dipenuhi berarti pasien aman, katanya.
Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa dalam hal ini rumah sakit harus menyiapkan diri dengan menetapkan target pencapaian indikator standar pelayanan kesehatan.
"Sudah diproses dengan semua pemangku kepentingan terkait. September ini kita finalisasi, targetnya tahun ini selesai dan bisa segera diterapkan," kata Direktur Bina Pelayanan Medik Spesialistik Departemen Kesehatan Ratna Rosita Hendardji di Jakarta, Senin.
SPM rumah sakit tersebut, kata dia, akan ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan.
Ia menjelaskan SPM rumah sakit terdiri atas berbagai aturan mengenai standar pelayanan kesehatan yang dilakukan di rumah sakit seperti standar respon kasus gawat darurat, standar penanganan masalah gawat darurat, standar pelayanan medis, dan standar pengelolaan limbah rumah sakit.
Ratna mencontohkan, standar pelayanan gawat darurat antara lain meliputi prosedur penanganan situasi gawat darurat dan respon gawat darurat.
"Misalnya, tidak boleh ada uang muka untuk pelayanan gawat darurat, respon gawat darurat tidak boleh lebih dari 10 menit," ujarnya.
Intinya setiap pelayanan pengelolaan rumah sakit harus memenuhi standar, sebab kalau standar dipenuhi berarti pasien aman, katanya.
Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa dalam hal ini rumah sakit harus menyiapkan diri dengan menetapkan target pencapaian indikator standar pelayanan kesehatan.
